Jumat, 14 Oktober 2016

Hukum Wasiat, Syarat Wasiat, Rukun, Wasiat dan Pendapat Para Ahli






Hukum Wasiat, Syarat Wasiat, Rukun Wasiat dan Pendapat Para Ahli - Sering kali banyak yang mengira bahwa wasiat itu termasuk di dalam sedekah. Padahal pada dasarnya wasiat berbeda dengan sedekah, karena wasiat merupakan akad yang kepemilikannya sah. Sedangkan sedekah tidak perlu menggunakan akad asalkan barang sedekah telah diterima, maka sudah menjadi hak kepemilikan dari si penerima sedekah. Wasiat juga berbeda dengan hibah. Untuk itu perlulah kita untuk mengetahui tentang apa itu wasiat?

Hukum wasiat sendiri bisa wajib dan kadangkala sunnah. Hukum wasiat bisa ditemukan dari dalil-dalil yang menerangkan pensyariatan wasiat yang terdapat pada ayat Al-Qur’an, Sunnah dan ijma’. Dari dalil-dalil tersebut bisa ditemukan tidak hanya hukumnya saja tetapi ketentuan-ketentuan dari wasiat juga.

Kata wasiat (washiyah) itu diambil dari kata Washshaitu asy-syaia, uushiihi, artinya aushaltuhu (aku menyampaikan sesuatu). Maka muushii (orang yang berwasiat) adalah orang yang menyampaikan pesan di waktu dia hidup untuk dilaksanakan sesudah dia mati.

Dalam istilah syara’, wasiat itu adalah pemberian seseorang kepada orang lain baik berupa barang, piutang ataupun manfaat untuk dimiliki oleh orang yang diberi wasiat sesudah orang yang berwasiat mati.

Sebagian fuqaha mendefinisikan wasiat itu adalah pemberian hak milik secara sukarela yang dilaksanakan setelah pemberinya mati. Dari sini, jelaslah perbedaan antara hibah dan wasiat. Pemilikan yang diperoleh dari hibah itu terjadi pada saat itu juga sedang pemilikan yang diperoleh dari wasiat itu terjadi setelah orang yang berwasiat mati. Ini dari satu segi, sedang dari segi lain, hibah itu berupa barang, sementara wasiat bisa berupa barang, piutang ataupun
manfaat.[1]


Di dalam Sunnah juga terdapat hadits-hadits berikut:
روي البخاري ومسلم عن ابن عمر رضي الله عنه قال : قال رسول الله عليه وسلم : ما حق امرء مسلم له شيء يوصى فيه. يبيت ليلتين ألا ووصيتهمكتوبة عنده. قال ابن عمر : مامرت على ليلة منذ سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقولو ذلك الا وعندي وصيتي.

“Telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim , dari Ibnu ‘Umar r.a, dia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw.: “Hak bagi seorang muslim yang mempunyai sesuatu yang hendak diwasiatkan, sesudah bermalam selama dua malam tiada lain wasiatnya itu tertulis pada amal kebaikannya.”

Ibnu ‘Umar berkata: Tidak berlalu bagiku satu malampun sejak aku mendengar Rasulullah saw. mengucapkan hadits itu kecuali wasiatku selalu berada di sisiku.”
 
Jumhur ulama mengatakan, ada empat rukun wasiat, yaitu
  1. Adanya Mushii (pihak pembuat wasiat)
  2. Adanya Musha lah (penerima wasiat)
  3. Adanya Musha bih (sesuatu/ barang yang diwasiatkan)
  4. Adanya shigat (ucapa serah terima) dengan adanya ijab dari mushii, misalnya “Aku berwasiat untuk fulan akan sesuatu itu.” Sedan qabul berasal dari pihak mushaa lah yang sudah jelas ditentukan.[2]

a. Syarat-syarat Mushii
  1. Mukallaf (baligh dan berakal sehat), merdeka, baik laki-laki maupun perempuan, muslim maupun kafir.[3]
  2. Dalam keadaan rela dengan kehendak sendiri.[4]

b. Syarat-syarat Mushaa lah
  1. Harus wujud
  2. Harus diketahui/ma’lum
  3. Harus berkompeten menerima hak milik dan keberhakan.
  4. Tidak kafir harbi[5] menurut golongan Malikiyyah, dan bukan kafir harbi di daerah peperangan menurut golongan Hanafiyyah, serta tidak mendapat wasiat berupa senjata untuk ahli perang menurut golongan Syafi’iyah.[6]

c. Syarat-syarat Mushaa bih
  1. Hendaknya berupa harta benda.
  2. Memiliki nilai.
  3. Bisa diberikan kepemilikannya
  4. Merupakan milik mushii, jika barang tersebut berujud/ sudah jelas (mu’ayyan).
  5. Tidak dengan menggunakan maksiat.[7]

Adapun hukumnya dilihat dari segi harus dilaksanakan atau harus ditinggalkan wasiat itu, [8] maka para ulama telah berbeda pendapat-pendapat itu kami ringkaskan sebagai berikut:

Pendapat pertama
Pendapat ini memandang bahwa wasiat itu wajib bagi setiap orang yang meninggalkan harta, baik harta itu banyak ataupun sedikit. Pendapat ini dikatakan oleh Az-Zuhri dan Abu Mijlaz.
 
Pendapat kedua
Pendapat ini memandang bahwa wasiat kepada kedua orang tua dan karib kerabat yang tidak mewarisi dari si mayit itu wajib hukumnya. Dan inilah mazhab Masruq, Iyas, Qatadah, Ibnu Jarir dan Az-Zuhri.
 
Pendapat ketiga
Yaitu pendapat empat orang imam dan aliran Zaidiyah yang menyatakan bahwa wasiat itu bukanlah kewajiban atas setiap orang yang meniggalkan harta (pendapat pertama), dan bukan pula kewajiban terhadap kedua orang tua dan karib kerabat yang tidak mewarisi (pendapat kedua); akan tetapi wasiat itu berbeda-beda hukumnya menurut keadaan.

Maka wasiat itu terkadang wajib, terkadang sunat, terkadang haram, terkadang makruh dan terkadang jaiz (boleh).
· WAJIBNYA WASIAT
Wasiat wajib dalam keadaan bila manusia mempunyai kewajiban syara’ yang dikhawatirkan akan disia-siakan bila dia tidak berwasiat, seperti adanya titipan, hutang kepada Allah dan hutang kepada manusia. Misalnya dia mempunyai kewajiban zakat yang belum ditunaikan, atau haji yang belum dilaksanakan, atau dia mempunyai amanat yang harus disampaikan, atau dia mempunyai hutang yang tidak diketahui selain oleh dirinya, atau dia mempunyai titipan yang tidak dipersaksikan.
· SUNATNYA WASIAT
Wasiat disunatkan bila ia diperuntukkan bagi kebajikan, karib kerabat, orang-orang fakir dan orang-orang saleh.
· HARAMNYA WASIAT
Wasiat itu diharamkan bila ia merugikan ahli waris.

روى سعيدبن منصور بأسناد صحيخ قال ابن عباس الأضرار في الوصية من الكبائر.

“ Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dengan isnad yang shahih, berkata Ibnu ‘Abbas: “Merugikan ahli waris di dalam wasiat itu termasuk dosa besar”.

Wasiat yang maksudnya merugikan ahli waris seperti bathil, sekalipun wasiat itu tidak mencapai sepertiga harta.

Diharamkan pula mewasiatkan khamar, membangun gereja, atau tempat hiburan (tempat maksiat).
· MAKRUHNYA WASIAT
Wasiat makruh, bila orang yang berwasiat sedikit hartanya, sedang dia mempunyai seorang atau banyak ahli waris yang membutuhkan hartanya. Demikian pula dimakruhkan wasiat kepada orang-orang yang fasik jika diketahui atau diduga dengan keras bahwa mereka akan menggunakan harta itu dalam kefasikan daan kerusakan. Akan tetapi apabila orang yang berwasiat tahu atau menduga keras bahwa orang yang diberi wasiat akan menggunakan harta itu untuk ketaatan, maka wasiat yang demikian ini menjadi sunat.
· JAIZNYA WASIAT
Wasiat Jaiz itu diperbolehkan bila ia ditujukan kepada orang yang kaya, baik orang yang diwasiati itu kerabat atau orang yang jauh (bukan kerabat).
 

Jika sesudah mengeluarkan biaya jenazah dan membayarkan utang, harta peninggalan masih ada maka tindakan selanjutnya adalah membayarkan atau menyerahkan wasiat yang dibuat pewaris kepada pihak yang berhak. Adanya ketentuan tentang wasiat itu terdapat dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 180. Yang menyatakan wasiat untuk orang tua dan kerabat yang pada umumnya adalah ahli waris sebagaimana terdapat dalam surah al-Nisa’ ayat 11,12 dan 176.[9]

Diantara hukum wasiat adalah wasiat sah dalam batas sepertiga harta atau kurang dari itu. Sebagian ulama menganjurkan agar wasiat tidak lebih dari sepertiga harta. Hal ini sesuai dengan pendapat Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, dan Ibnu Abbas.[10] Dari Sa’ad bin Abi Waqash diperoleh hadits riwayat yang berbunyi:

الثلث والثلث كثير.[{11

“ Sepertiga, dan sepertiga itu banyak.”

Wasiat tidak boleh lebih dari sepertiga harta jika orang yang berwasiat tersebut mempunyai ahli waris, kecuali dengan izin mereka. Karena apa yang lebih dari sepertiga harta merupakan hak mereka. Sehingga, jika mereka mengizinkan apa yang lebih tersebut, maka wasiatnya menjadi sah. Izin para ahli waris tersebut diikrarkan setelah orang yang berwasiat meninggal dunia.

Diantara hukum wasiat juga adalah wasiat dianjurkan bagi orang yang mempunyai harta melimpah dan ahli warisnya tidak memerlukannya. Hal ini berdasarkan firman Allah:

“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat.”(al-Baqarah: 180).[12]

Harta yang banyak yang kadarnya dikembalikan pada kebiasaan masyarakat. Oleh sebab itu, orang yang hartanya sedikit dan para ahli warisnya membutuhkan harta tersebut hukumnya makruh jika ia berwasiat. Karena dengan demikian ia telah membelokkan hartanya dari para ahli warisnya kepada orang lain. Hal ini juga berdasarkan sabda Rasulullah kepada Sa’ad bin Abi Waqqash r.a.,

أنك أن تذر ورثتك أغنياء خير من أن تذرهم عالة يتكففون الناس.

" Engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada meninggalkan mereka melarat dan mengemis kepada orang-orang.”[13]

Termasuk dalam hukum wasiat adalah semua utang serta kewajiban syariat seperti zakat, haji, nazar dan kafarat yang merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan mayit harus didahulukan meskipun ia tidak berwasiat untuk membayarnya dahulu.

Dan berdasarkan hadits riwayat Tirmidzi dan Ahmad bahwa Ali r.a. berkata, “Rasulullah menetapkan bahwa utang harus dibayar sebelum wasiat.” Penjelasan ini menunjukkan bahwa utang harus didahulukan dari wasiat. Begitu juga berdasarkan hadits yang sebutkan dalam kitab-kitab shahih:

أقضوا الله , فا الله أحق بالوفاء.

“ Tunaikanlah kewajiban (utang) kepada Allah, karena kewajiban tersebut lebih berhak untuk ditunaikan.”.[14]

Maka, berdasarkan ijma’ para ulama, penunaian kewajiban dimulai dari pembayaran utang, kemudian wasiat, dan terakhir pembagian warisan.

Wasiat merupakan perkara yang penting. Hal ini terlihat dari pengangkatan posisinya oleh Allah di dalam Al-Qur’an dan mendahulukan penyebutannya dari hal-hal lain untuk menunjukkan rasa perhatian yang lebih dan dorongan untuk melaksanakannya selama wasiat tersebut sesuai dengan syari’at. Allah mengancam siapa saja yang meremehkan perkara wasiat ini atau menggantinya dengan tanpa ada alasan yang dapat diterima syara’. Allah berfirman,

“Barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(al-Baqarah: 181).

Imam asy-Syaukani di dalam kitab tafsirnya berkata,” Makna mengganti adalah mengubah. Ini adalah ancaman bagi orang yang mengganti wasiat yang benar dan tidak menyimpang serta tidak menyebabkan kemudharatan. Hal itu bisa menimbulkaan dosa. Dan, orang yang berwasiat tidak bertanggung jawab atas penggantian itu, karena ia telah terlepas dari perbuatan itu dengan wasiatnya.”[15]

Apabila seseorang berwasiat untuk orang yang adil, lalu orang itu berubah menjadi fasik, maka wasiat tersebut hendaknya dicabut, sebagaimana jika seseorang menyandarkan wasiat kepadanya, maka hal itu tidak sah karena ia tidak tidak dapat dipercaya untuk mengurusnya. Demikian menurut pendapat Maliki, Syafi’i. Dari Hambali diperoleh dua pendapat. Hanafi berpendapat : apabila ia menjadi fasik maka dibantukan orang adil kepadanya. Sedangkan jika diberikan wasiat kepada orang fasik maka hakim bertindak menyelesaikan wasiat tersebut. Apabila hakim tidak bertindak menyelesaikannya maka sahlah wasiat itu.[16]
 
Menurut ketentuan hukum Islam, bahwa bagi seseorang yang merasa telah dekat ajalnya dan ia meninggalkan harta yang cukup (apalagi banyak) maka diwajibkan kepadanya untuk membuat wasiat bagi kedua orang tuanya (demikian juga bagi kerabat yang lainnya), terutama sekali apabila ia telah pula dapat memperkirakan bahwa harta mereka (kedua orang tuanya dan kerabat lainnya) tidak cukup untuk keperluan mereka.[17]

Apabila dilihat dari pandangan ilmu hukum, bahwa wasiat merupakan perbuatan hukum sepihak (merupakan pernyataan sepihak), jadi dapat saja wasiat dilakukan tanpa dihadiri oleh penerima wasiat, dan bahkan dapat saja dilakukan dalam bentuk tertulis.[18]

Bahkan dalam praktiknya dewasa ini, untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak dikehendaki di belakang hari, sering pernyataan wasiat itu dilakukan dalam bentuk akta autentik, yaitu diperbuat secara notarial, apakah dibuat oleh atau dihadapan notaris atau disimpan dalam protokol notaris.

Kompilasi Hukum Islam Indonesia khususnya dalam ketentuan yang terdapat dalam Buku II Bab V Pasal 194 dan 195 menyebutkan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan pewasiatan tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Pewasiat harus orang telah berumur 21 tahun, berakal sehat, dan disarkan kepada kesukarelaannya.
  2. Harta benda yang diwasiatkan harus merupakan hak si pewasiat.
  3. Peralihan hak terhadap barang/benda yang diwasiatkan adalah setelah si pewasiat meninggal dunia.

Menyangkut persyaratan yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan pewasiatan tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Apabila wasiat itu diakukan secara lisan, maupun tertulis hendaklah pelaksanaanya dilakukan dihadapan 2 (dua) orang saksi atau dihadapan notaris.
  2. Wasiat hanya diperbolehkan maksimal sepertiga dari harta warisan , kecuali ada persetujuan semua ahli waris.
  3. Wasiat kepada ahli waris hanya berlaku bila disetujui oleh semua ahli waris.
  4. Pernyataan persetujuan pada poin 2 dan 3 dapat dilakukan secara lisan maupun tertulis di hadapan 2 (dua) orang saksi atau dibuat di hadapan notaris.

Persoalan wasiat ini apabila dihubungkan dengan persoalan pembagian harta warisan, maka haruslah terlebih dahulu dikeluarkan apa-apa yang menjadi wasiat dari si meninggal, barulah kemudian (setelah dikeluarkan wasiat) harta tersebut dibagikan kepada ahli waris. [19]
 
Wasiat untuk melaksanakan haji secara mufakat, wasiat seperti ini sah, karena haji termasuk amalan kebajikan.

Golongan hanafiyyah berpendapat, apabila seseorang berwasiat agar dilaksanakan haji wajib (yang menjadi rukun Islam atau haji nadzar), maka haji tersebut harus ditunaikan untuknya dengan berjalan kaki atau berkendaraan, dan haji ini dilaksanakan dari negaranya, dengan catatan biaya yang ada cukup. Dan bila ternyata biaya tidak mencukupi, maka haji dilaksanakan dari manapun sekira biaya mampu mencukupinya. Karena, orang yang telah dianggap mampu berhaji tidak harus melaksanakan hajinya dengan berjalan kaki. Namun, dia harus melaksanakannya sesuai dengan kelazimannya ketika dia berada di negaranya.[20]

Wasiat haji sunnah berhukum sah. Dan orang yang mengatakan,” Hajikanlah aku dengan menggunakan sepertiga hartaku atau dengan uang seribu,”sedang uang sejumlah ini cukup digunakan untuk biaya haji berulang-ulang. Maka, jika mushii menjelaskan dengan kata ‘sekali haji’, maka penjelasannya ini diikuti, dan uang sisa dikembalikan kepada ahli warisnya. Dan bila dia tidak memberikan penjelasan apapun, maka yang lebih utama dia dihajikan dengan beberapa kali haji oleh beberapa orang dalam satu tahun, atau sekali haji untuk satu tahun haji secara berulang, pendapat terakhir dari dua pendapat Abu Hanifah mengatakan bahwa haji sunnah adalah lebih utama dari sedekah.

Golongan syafi’iyyah berpendapat, haji wajib (yag menjadi rukun Islam atau haji nadzar) meski tidak diwasiatkan untuk dilaksanakan, menurut pendapat yang msyhur harus dihitung dari harta pusaka, seperti utang lainnya, bahkan lebih utama untuk ditunaikan pelaksanaannya. Bila mushii berwasiat untuk dihajikan dengan menggunakan harta pusakanya atau dengan sepertiga hartanya, maka wasiat ini dilaksanakan dengan menggunakan harta tersebut, dan wasiat haji wajib harus disempurnakan dengan menggunakan harta pusaka apabila harta yang dijelaskannya tidak mencukupi. Bila dia berwasiat tanpa menjelaskan harta yang akan digunakannya, maka biaya diambil dari harta pusaka.[21]
 
PENUTUP
Wasiat adalah pemberian hak milik secara sukarela yang dilaksanakan setelah pemberinya mati. Wasiat itu sah dalam batas sepertiga harta atau kurang dari itu. Sebagian ulama menganjurkan agar wasiat tidak lebih dari sepertiga harta. Wasiat tidak boleh lebih dari sepertiga harta jika orang yang berwasiat tersebut mempunyai ahli waris, kecuali dengan izin mereka. Karena apa yang lebih dari sepertiga harta merupakan hak mereka. Sehingga, jika mereka mengizinkan apa yang lebih tersebut, maka wasiatnya menjadi sah. Izin para ahli waris tersebut diikrarkan setelah orang yang berwasiat meninggal dunia.
  1. Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah Edisi 14 ,Bandung: Alma’arif, 1987, Hlm. 230
  2. Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu jilid 10, Depok: Gema Insani, 2011, Hlm.161.
  3. Ibid, Hlm. 169.
  4. Ibid, Hlm. 171
  5. Kafir harbi adalah orang yang ada diantara kita dan negaranya sebagai musuh dan memerangi.
  6. Ibid, Hlm.172
  7. Ibid, Hlm. 184.
  8. Adapun hukumnya dari segi akibatnya yang terjadi ialah bahwa wasiat itu adalah milik bagi orang yang diberinya setelah pemberi wasiat mati.
  9. Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam, Jakarta: Prenada Media, 2005, Hlm.283.
  10. Saleh al-Fauzan, Fiqih Sehari-Hari, Depok, Gema Insani,2006, Hlm. 547
  11. Wahbah Az-Zuhaili, Op.Cit , Hlm.156-157.
  12. Ibid, Hlm.548.
  13. Ibid, Hlm. 549.
  14. Ibid, Hlm. 553
  15. Ibid , Hlm.554
  16. Al-‘Alamah bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi, Fiqih Empat Mazhab, Bandung: Harsyimi, Hlm. 312.
  17. Suhrawardi K. Lubis, dan Komis Simanjuntak, Hukum Waris Islam, Jakarta: Sinar Grafika, 2009, Hlm. 44
  18. Ibid, Hlm. 47.
  19. Ibid, Hlm. 48
  20. Wahbah Az-Zuhaili, Op.Cit , Hlm.198-199
  21. Ibid, Hlm. 199


Jumat, 23 September 2016

Manajemend Pendidikan Islam



BAB I
PENDAHULUAN
             A.    Latar Belakang
Kepala sekolah memegang peranan penting dalam mengelola sekolah. Ia bertanggung jawab sepenuhnya terhadap berlangsungnya proses pembelajaran di suatu sekolah. Sebagai pemimpin seorang kepala sekolah dituntut untuk dapat menjadi seorang innovator. Oleh karena itulah kualitas kepemimpinan kepala sekolah sangat signifikan sebagai kunci keberhasilan bagi proses pembelajaran yang berlangsung si suatu sekolah.
Diantara unsur sumber daya manusia yang harus diberdayakan oleh seorang kepala sekolah adalah kelompok siswa. Untuk meningkatkan mutu pendidikan sekolah, kepala sekolah dituntut untuk mau dan mampu melakukan upaya pengembangan pengelolaan sekolah seperti dengan melakukan manajemen kesiswaan.
Keberhasilan dalam penyelenggaraan lembaga pendidikan akan sangat tergantung kepada manajemen komponen- komponen pendukung pelaksana, dan sarana prasarana. Oleh karena itu keberadaan siswa sangat dibutuhkan, terlebih bahwa pelaksanaan kegiatan pendidikan disekolah , siswa merupakan subyek sekaligus objek dalam proses transformasi ilmu pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan. Artinya bahwa dibutuhkan manajemen kesiswaan yang bermutu bagi lembaga pendidikan (sekolah) itu sendiri. Sehingga peserta didik atau siswa dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi fisik, kecerdasan intelektual, social dan kejiwaan.
Kebutuhan siswa dalam mengembangkan dirinya tentu saja beragam dalam hal pemprioritasan, seperti disatu sisi para siswa ingin sukses dalam hal prestasi akademiknya. Oleh karena itu diperlukan layanan bagi siswa atau peserta didik yang dikelola dengan baik. Manajemen kesiswaan berupaya mengisi kebutuhan akan layanan yang baik tersebut, mulai dari siswa tersebut mendaftarkan diri ke sekolah sampai siswa tersebut menyelesaikan studi disekolah tersebut.


           B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Istilah Manajemen?
2.      Apa Fungsi Manajemen?
3.      Apa Sarana Manajemen?
4.      Apa yang dimaksud Manajemen Kesiswaan?

BAB II
MANAJEMEN KESISWAAN

A.    Istilah Manajemen
Manajemen adalah suatu proses kegiatan usaha mencapai tujuan tertentu melalui kerja sama dengan orang lain. Meskipun cenderung mengarah pada focus tertentu,para ahli masih berbeda pandangan dalam mendenefisikan menejemen. Menejemen sering diartikan sebagai seni, ilmu, system, proses, dan fungus (Hasibuan, 2004;11). Manajemen adalah suatu proses social yang direncanakan untuk menjamin, partisipasi dan keterlibatan sejumlah orang dalam mencapai sasaran dan tujuan tertentu yang ditetapkan secara efektif. Manajemen mengandung unsure pembimbingan, pengarahan dan pengelolaan sekelompok orang terhadap pencapaian secara umum.
Artikel manajemen dan organisasi memaparkan bahwa begitu luasnya pengertian manajemen sehingga tidak ada definisi yang secara konsisten digunakan oleh semua orang. Dalam hal ini dua definisi manajemen dikemukakan sebagai berikut.
1.      Mary parker follet, manajemen merupakan seni (art) dalam menyelesaikan pekerjaan melelui orang lain.
2.      James AF stoner, managemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian pengarahan dan pengawasan usaha-usaha anaggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar tercapai tujuan yanag telah ditentukan.
3.      Luther gullick, managemen suatu ilmu (secience).
4.      James H. Donelli Jr; James L. Gibson ; dan Jhon M. Ivancevick, Managemen adalah proses dari seseorang atau beberapa individu untuk mengkoordinasi kegiatan-kegiatan dari orang lain untuk memperoleh hasil yang tidak dapat dilakukan seorang individu saja.
5.      Karthyn M. Bartel dan David C. Martin, Managemen adalah proses untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan melakukan kegiatan-kegiatan dari 4 fungsi utama yaitu; merencanakan (planning), mengorganisasi (organizing), memimpin (leaging), dan mengendalikan (kontroling).
6.      Chuck Williams (2001) Managemen adalah menyelesikan pekerjaan melalui orang lain. Jadi seorang manager bukanlah mengerjakan semua pekerjaan sendiri. Dia bekerja melalui orang-orang yang memiliki kemampuan-kemampuan teknis dilapangan, tanpa mengerjakan teknisnya (walaupun bukan berarti seorang manager tidak memiliki kemampuan teknis).
7.      Murti Sumarni-John Soeprihanto (1995), managemen merupakan suatu proses yang terdiri atas kegiatan-kegiatan mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, dan pengadilan yang dilakukan, untuk menetukan serta mencapai saran–saran melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya yang lain.
Managemen juga dipandang sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai suatu profesi dimana manajer dan tenaga professional dituntut untuk menegarahkan suatau organisasi mencapai tujuan. Bahkan kesuksesan organisasi sangat ditentukan dengan pemanduan semua sumber daya oleh seorang pemimpin yang professional.
Berdasarkan definisi yang telah dipaparkan oleh beberapa para ahli maka dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah suatu proses merencanakan, mengorganisasikan, mnegarahkan, dan mengendalikan dengan melibatkan orang lain untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan.

B.     Fungsi Manajemen
Menurut Marno (2007) dalam manajemen terdapat fungsi-fungsi yang berlaku secara universal. Dalam demikian, meskipun konsep manajemen yang dibangun atas dasar nilai dan budaya yang berbeda teapi memiliki fungsi manajerial yang sama. Keberadaan itu terletak pada penerapan dalam penyelenggaraaan sebuah organisasi karena perbedaan manajer, tipe dan sifat organisasi, tipe anggota, dan sebagainya.
Menejemen oleh para penulis dibagi atas beberapa fungsi, berbagai fungsi-fungsi menejemen ini tujuanya adalah:
1.      Supaya sistematik urutan pembahasanya lebih teratur
2.      Agar analisis pembahasanya lebih mudah dan lebih mendalam
3.      Untuk menjadi pedoman pelaksanaan proses menejeman bagi menejer (hasibuan 2005:37).
Menurut Malayu P. Hasibuan, kegiatan-kegiatan dalam fungsi manajemen;
1.      Fungsi perencanaan (planning)
a.       Menetapkan tujuan dan target bisnis.
b.      Merumuskan strategi untuk mencapai tujuan dan target bisnis tersebut.
c.       Menetukan sumber-sumber daya yang ditentukan.
d.      Menetapkan standard / indicator keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis.
2.      Fungsi pengorganisasian (organizing).
a.       Mengalokasikan sumber daya, merumuskan dan menetapkan tugas, dan menetapkan prosedur yang diperlukan.
b.      Menetapkan struktur organisasi yang menunjukan adanya garis kewenangan dan tanggung jawab.
c.       Kegiatan perekrutan, penyeleksian, pelatihan, dan pengembangan sumber daya manusia atau tenaga kerja.
d.      Kegiatan penempatan sumber daya manusia pada prosesi yang paling tepat.
3.      Fungsi mengimplementasikan (directing)
a.       Mengimplementasikan proses kepemimpinan, pembimbingan dan pemberian motivasi kepada tenaga kerja agar dapat bekerja secara efektif dalam pencapaian tujuan.
b.      Memberikan tugas dan penjelasan rutin mengenai pekerjaan menjelaskan kebijakan yang di tetapkan.
4.      Fungsi pengawasan (controlling)
a.       Mengevaluasi keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis sesuai dengan indicator yang telah ditetapkan.
b.      Mengambil langkah klarifikasi dan koreksi atas penyimpangan yang mungkin ditemukan.
c.       Melakukan berbagaialternatif solusi atas berbagai masalah yang terkait dengan pencapaian tujuan dantarget bisnis.
Menejemn organisasi meliputi usaha perencanaan, pengorganisaian, penggerakan dan pengawasan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan menggunakan potensi yang secara efektif dan efisien.



C.     Sarana Manajemen
Untuk mencapai tujuan yang telah di tentukan diperlukan alat-alat sarana (tools). Tools merupakan syarat suatu usaha untuk mencapai hasil yang ditetapkan. Tools tersebut dikenal dengan 6M, yaitu man, money, materials, machines, method, dan markets.
Man merujuk pada sumber daya manusiayang di muliki oleh organisasi. Dalam manajemen, adalah yang  paling menentukan. Manusia yang membuat tujuan dan manusia pula yang melakukan proses untuk mencapai tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses kerja, sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk kerja. Oleh karena itu, menejemn timbul karena adanya arang-orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan.
Money atau uang merupakan salah satu unsure yang tidak bisa diabaikan. Uang adalah alat tukar dan alat untuk pengukur nilai. Besar kecilnya kegiatan dapat diukur dari jumlah uang yang beredar. Oleh karena itu uang merupakan alat (tools) yang penting untuk mencapai tujuan karena segala sesuatu harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan debgan berapa uang yang harus disediakan untuk membiayai gaji tenaga kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli serta berapa hasil yang akan dicapai dari suatu organisasi.
Materials berdiri dari bhan setengah jadi (raw materials) dan bahan jadi. Dalam dunia usaha untuk mecapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli dalam bidangnya juga harus menggunakan bahan /materi-materi sebagai salah satu sarana. Sebab materi dan manusia dapat dipisahkan, tanpa materi tidak akan tercapai hasil yang dikehendaki.
Machine atau digunakan untuk member kemudahan atau menghasilkan keuntungan yang lebih besar serta menciptakan efisiansi kerja.
Method adalah suatu tatacara kerja yang memperlancar jalanya manajer.sebuah metode dapat diyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas dengan memberikan berbagai timbangan-timbangan kepada sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu, serta dan kegiatan usaha. Perlu diingat meskipun emtode baik, sedangkan orang yang melaksanakannya tidak mengerti atau tidak mempunyai pengalaman maka hasil tidak akan memuaskan. Dengan demikian, perana utama dalam manajemen tetap manusianya sendiri.

Market atau pasar adalah tempat dimana organisasi menyabarluaskan (memasarkan) produknya. Memasarkan produk sudah tentu sangat penting sebab bila barang yang diproduksi tidak laku, maka produksi barang akan berhenti. Artinya, proses kerja tidak akan berlangsung. Oleh sebab itu, penguasaan dalam arti menyabarkan merupakan factor menentukan dalam perusahaan. Agar pasar dapat dikuasai maka kualitas dan harga barang harus sesuai dengan selera konsumen dan daya beli (kemampuan) konsumen (purwanto,2001).
D.    Manajemen Kesiswaan
Manajemen kesiswaan atau menejemen kemuridan (peserta dididk) merupakan salah satu bidang operasional Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Menejemen kesiswaan adalah penetaan dan pengaturan terhadap kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik, mulai masuk sampai dengan keluarnya peserta didik tersebut dari suatu sekolah. Menejemen kesiswaan bukan hanya berbentuk pencatatan data peserta dididk, melainkan meliputi aspek yang lebih luas yang secara operasional dapat membantu upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan di sekolah.
Manajemen kesiswaan bertujuan untuk megatur berbagai kegiatan dalam bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran di sekolah dapat berjalan dengan lancar, tertib dan teratur, serta mencapai tujuan pendidikan sekolah. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, bidang menejemen kesiswaan sedikitnya memeiliki tiga tugas utama yang harus diperhatikan, yaitu penerimaan murid baru, kegiatan kemajuan belajar, serta bimbingan dan pembinaan disiplin. Berdasarkan tiga tugas utama tersebut Sutisna (1985)menjabarkan tanggung jawab kepala sekolah dalam mengelola bidang kesiswaan berkaitan dengan hal-hal berikut :
1.      Kehadiran murid di sekolah dan masalah-masalah yang berhubungan dengan itu.
2.      Penerimaan, oriemtasi, klasifikasi, dan penunjukan murid ke kelas dan progam studi.
3.      Evaluasi dan pelaporan kemajuan belajar.
4.      Progam supervise bagi murid yang mempunyai kalinan, seperti pengajaran, perbaikan, dan pengajaran luar biasa.
5.      Pengendalian disiplin murid.
6.      Progam bimbingan dan penyuluhan.
7.      Progam kesehatan dan keamanan.
8.      Penyesuaian pribadi, sosial, dan emosional.
Penerimaan siswa baru perlu dikelola sedemikian rupa mulai dari peencanaan penentuan daya tamping dengan jumlah anak yang tinggal kelas atau mengulang. Kegiatan penerimaan siswa baru biasanya dikelola oleh panitia penerimaan siswa baru (PSB) atau panitia penerimaan murid baru (PMB). Dalam kegiatan ini kepala sekolah membentuk panitia atau menunjuk beberapa orang guru untuk bertanggung jawab dalam tugas tersebut. Setelah para siswa diterima lalu dilakukan pengelompokan dan orientasi sehingga secara fisik, mental dan emosional siap untuk mengikuti pendidikan di sekolah.
Keberhasilan, kemajuan, dan presentasi belajar para siswa memerlukan data yang outentik, dapat dipercaya, dan memiliki keabsahan. Data ini diperlukan untuk mengetahui dan mengontrol keberhasilan atau prestasi kepala sekolah sebagai manajer pendidikan di sekolahnya. Kemajuan belajar siswa ini  secara periodik harus dilaporkan kepada orangtua, sebagai masukan untuk berpartisipasi dalam proses pendidikan dan membimbing anaknya belajar, baik di rumah maupun di sekolah.
Tujuan pendidikan tidak hanya untuk mengembangkan pengetahuan anak, tetapi juga sikap kepribadian, serta aspek sosial emosional, disamping keterampilan-keterampilan lain. Sekolah tidak hanya bertanggung jawab memberikan  berbagai ilmu pengetahuan, tetapi memberi bimbingan dan bantuan terhadap anak-anak yang bermasalah, baik dalam belajar, emosional, maupun sosial, sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensi masing-masing. Untuk kepentingan tersebut, diperlukan data yang lengkap tentang peserta didik. Untuk itu, di sekolah perlu dilakukan pencatatan dan ketatalaksanakan kesiswaan, dalam bentuk buku induk, buku klapper, buku laporan keadaan siswa, buku presensi siswa, buku rapor, daftar kenaikan kelas, buku mutasi, dan sebagainya.



BAB III
Kesimpulan
        1.      Istilah Manajemen
   Manajemen adalah suatu proses merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, dan        mengendalikan dengan melibatkan orang lain untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan.
       2.      Fungsi Manajemen
a.       Fungsi perencanaan (planning)
b.      Fungsi pengorganisasian (organizing).
c.       Fungsi mengimplementasikan (directing)
d.      Fungsi pengawasan (controlling) 
3.    Sarana Manajemen
Untuk mencapai tujuan yang telah di tentukan diperlukan alat-alat sarana (tools). Tools merupakan syarat suatu usaha untuk mencapai hasil yang ditetapkan. Tools tersebut dikenal dengan 6M, yaitu man, money, materials, machines, method, dan markets.
                 4.      Manajemen Kesiswaan
Manajemen kesiswaan adalah penetaan dan pengaturan terhadap kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik, mulai masuk sampai dengan keluarnya peserta didik tersebut dari suatu sekolah.