Kamis, 03 November 2016

analisis konsep pendidikan perspektif Hasan Langgulung

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Di sepanjang sejarah peradaban manusia baik yang telah tercatat didalam lembaran-lembaran sejarah maupun peradaban modern yang masih manusia eksis di dalamnya seperti sekarang ini. Tentunya terdapat beberapa faktor yang menyebabkan mereka bisa membangun peradaban-peradaban tersebut, sehingga mereka bisa bertahan berpuluh, beratus atau bahkan beribu tahun lamanya. Dan salah satu factor tersebut ialah ilmu pengetahuan. Dengan ilmu itulah manusia telah berhasil membangun banyak peradaban besar. Semakin banyak ilmu dan pemikir yang dikuasai dan dimilikinya maka semakin lama mereka bisa mempertahankan eksistensi peradaban yang mereka bangun.
Telah banyak tercatat dalam sejarah beberapa tokoh besar dalam pemikiran ilmu. Dari masa yunani kuno sampai masa-masa islam. Di Indonesia sendiri telah banyak terlahir para pemikir ilmu terutama para pemikir islam yang telah banyak menyumbangkan gagasan-gagasannya dalam upaya membangun peradaban ilmu di Indonesia.
            Diantara banyak tokoh tersebut ialah Hasan Langgulung, yang corak pemikirannya menitik beratkan pada pemikiran pendidikan islam. Maka dari itulah secara khusus akan dipaparkan didalam makalah singkat ini riwayat hidup dari Hasan langgulung, latar belakang pendidikan serta apa saja gagasan-gagasanya dalam upaya membangun system pendidikan islam yang bermutu.
B.  Rumusan Masalah
1.    Bagaimana biografi Hasan Langgulung?
2.    Bagaimana analisis konsep pendidikan perspektif Hasan Langgulung?
C.  Tujuan Pembahasan
1.    Mengetahui biografi Hasan Langgulung
2.    Mengetahui analisis konsep pendidikan perspektif Hasan Langgulung
BAB II
PEMBAHASAN
A.      Riwayat Hidup Hasan Langgulung
Hasan Langgulung lahir di Rapang, Sulawesi Selatan, Indonesia, pada 16 Oktober 1934. Pendidikannya dimulai di sekolah formal, yaitu di sekolah dasar di desa kelahirannya. Setelah itu ia melanjutkan pendidikannya di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah Islam di Ujung Pandang pada tahun 1942-1952. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Ujung Pandang, ia melanjutkan studinya ke Sekolah Guru Agama Islam Atas yang juga di Ujung Pandang pada tahun 1952-1955, serta Bahasa Inggris di Ujung Pandang pada tahun 1957-1962.
Pendidikan selanjutnya ia tempuh di Ein Syam University, Cairo, pada tahun 1963-1964 dalam rangka mendapatkan gelar Diploma of Education. Pada tahun yang sama (1964) ia juga memperoleh gelar Diploma dalam bahasa Arab Modern dari Institut of Higher Arab Studies, Arab League, Cairo. Setelah itu ia melanjutkan studi pada program Pascasarjana di Ein Syam University, Cairo pada tahun 1967, dan memperoleh gelar master dalam bidang psikologi dan mental hygiene. Pada tahun 1971, ia memperoleh gelar Ph.D dalam bidang psikologi dari Universitas of Georgia, Amerika Serikat.
Dengan memperhatikan latar belakang pengalaman pendidikannya dapat diketahui, bahwa ia adalah seorang yang memiliki perhatian dalam bidang psikologi yang erat hubungannya dengan masalah pendidikan. Itulah sebabnya tidak mengherankan jika pada tahap selanjutnya ia juga sebagai orang yang ahli dalam bidang pendidikan islam.[1]
Diantara  tesis dan disertasi beliau ialah, al- Murahiq al- Indonesia: Ittijahatuh wa Darjat Tawafuq ‘indahu. ( Tesis M.A Ein Shams University, Cairo, 1967). A. Cross- Cultural Study of the Child Conception of Situational Causality in India, Western Samoa, Mexico and the United States, ( Dissertasi Ph,D., Universitas of Georgia, Amerika Serikat, 1971). Beliau juga sangat aktif menulis dan menerbitkan lebih dari 20 judul buku serta sejumlah artikel yang diterbitkan di berbagai majalah luar negeri dan dalam negeri yang berkisar dalam psikologi, pendidikan, falsafah dan islam.[2]
B.          Konsep Filsafat Pendidikan Islam
Hasan Langgulung bukanlah seorang filosof, akan tetapi beliau adalah seorang tokoh pendidikan yang mengkritisi filsafat pendidikan Islam menurutnya, filsafah pendidikan Islam bersumber dari falsafah hidup Islam. Filsafat hidup Islam mencakup kebenaran yang bersifat spekulatif dan praktikal yang dapat menolong untuk menafsirkan tentang manusia, sifat-sifatnya, nasib kesudahannya, dan keseluruhan hakikat, yang didasari oleh prinsip-prinsip awal atau tertinggi, dan tidak berubah yang memiliki norma-norma yang tidak akan bertakluk pada kesalahan-kesalahan bagi tingkah laku individu dan masyarakat. Sehingga penulis dapat menyimpulkan pemikiran Hasan Langgulung tentang filsafat pendidikan Islam adalah sebuah titik permulaan dalam proses pendidikan, selain menjadi permulaan dari proses filsafat pendidikan juga menjadi tulang punggung dari komponen- komponen pendidikan misalnya dalam membahas tentang sistem pendidikan yang diantaranya asas- asas atau dasar pendidikan, tujuan pendidikan, kurikulum pendidikan, metode pendidikan, evaluasi.[3]
Pendidikan dan komponen- komponen lain yang perlu dibenahi oleh filsafat pendidikan Islam. Hasan Langgulung memiliki langkah utama dalam memperbaiki sistem pendidikan yaitu dengan berusaha membina filsafat pendidikan secara menyeluruh, realistis, fleksibel dalam mengambil landasanlandasan dan prinsip- prinsip ajaran Islam. sehingga terdapat penyelesaian. Sekilas penjelasan tentang filsafat pendidikan Islam, selanjutnya penulis akan mengalisa pemikiran Hasan Langgulung, melalui kerangka pemikiran Hasan Langgulung beserta relevansinya di dunia pendidikan khususnya di Indonesia. Konsep Pengembangan Pendidikan Islam Hasan Langgulung, pada akhir abad ke 20, pemikiran pendidikan Islam mulai menampakkan eksistensinya dengan memberikan perhatian pada persoalan yang langsung bersentuhan dengan problematika pendidikan Islam. Diskursus pendidikan Islam kontemporer mempunyai telaah yang distingtif dari pemikiran pendidikan Islam klasik maupun abad pertengahan, karena perbedaan tuntutan zaman. Salah satu tokoh pemikir pendidikan Islam kontemporer adalah Hasan langgulung, dimana ia telah memberikan kontribusi pemikiran yang telah tertuang dalam beberapa buku yang kental dengan studi pendidikan Islam. Pemikiran Langulung mempunyai corak Islamisasi pendidikan dan karakteristik yang distingtif partikulatif untuk dikaji, khususnya berkaitan dengan perkembangan pemikiran pendidikan Islam pada paruh kedua abad 20 dan memasuki abad 21 Pendidikan menurut Hasan Langgulung merupakan proses untuk menemukan dan mengembangkan kemampuan- kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik. Paradigma yang dipakai oleh Hasan Langgulung untuk mendefinisikan pendidikan bisa dengan melihat dari tiga sudut pandang yaitu dari sudut pandangan masyarakat , dari segi pandangan individu, dari segi proses antar individu dan masyarakat.[4]
Sehingga melahirkan sebuah pendekatan pendidikan Islam yaitu:
1.      Pengembangan Potensi
Kalau sifat-sifat Tuhan yang berjumlah 99 diaktualisasikan pada diri dan perbuatan manusia niscaya ia merupakan potensi yang tak terkira banyaknya. Hal ini menggambarkan bagaimana potensi yang dimiliki manusia. Sehingga potensi manusia sebagai karunia Tuhan itu haruslah dikembangkan, sedang pengembangan potensi sesuai dengan petunjuk Tuhan itulah yang disebut ibadah. Jadi, kalau tujuan kejadian manusia adalah ibadah dalam pengertian pengembangan potensi-potensi, maka akan bertemu dengan tujuan tertinggi (ultimate aim) pendidikan Islam untuk mencipta manusia ‘abid (penyembah Allah). [5]

2.      Pewarisan Budaya
Menurut Hasan Langgulung Pewarisan budaya (transmission of culture) yaitu proses mewarsikan budaya (unsur-unsur budaya dari satu generasi ke generasi manusia atau masyarakat berikutnya melalui proses pembudayaan (proses belajar budaya). Sesuai dengan hakikat dan budaya sebagai pemilik bersama masyarakat maka unsur-unsur kebudayaan itu memasyarakat dalam individu-individu warga masyarakat dengan jalan diwariskan atau dibudayakan melalui proses belajar budaya. Proses pewarisan budaya dilakukan melalui proses enkulturasi (pembudayaan) dan proses sosialisasi (belajar atau mempelajari budaya). Pewarisan budaya umumnya dilaksanakan melalui saluran lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah, lembaga pemerintahan, perkumpulan, institusi resmi, dan media massa. Melalui proses pewarisan budaya maka akan terbentuk manusia-manusia yang memiliki kepribadian selaras dengan lingkungan alam, sosial dan budayanya disamping kepribadian yang tidak selaras (menyimpang) dengan lingkungan alam, sosial dan budayanya.[6]

3.      Interaksi Antar Potensi dan Budaya
Dalam kaitannya dengan Islam, interaksi antara potensi dan budaya
ini lebih menonjol sebab baik potensi yang berupa roh Allah yang disebut
fitrah, seperti dinyatakan dalam hadits yang artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hanya orang tuanya menyebabkan ia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR Bukhari), ataupun agama yang diwahyukan kepada Rasul itu juga adalah fitrah, firman Allah dalam QS.Ar Rum ayat 30.[7]
Jadi, fitrah sebagai potensi yang melengkapi manusia semenjak lahir dan fitrah sebagai din yang menjadi pondasi tegaknya peradaban Islam. Pendeknya, fitrah dipandang dari dua sudut yang berlainan. Dari satu segi adalah potensi, dari segi lain ia adalah din. Yang satu adalah roh Allah, sedangkan segi yang lain adalah perkataan (kalam) Allah.[8]




BAB III
KESIMPULAN
1.      Hasan Langgulung lahir di Rapang, Sulawesi Selatan, Indonesia, pada 16 Oktober 1934. Pendidikannya dimulai di sekolah formal, yaitu di sekolah dasar di desa kelahirannya. Setelah itu ia melanjutkan pendidikannya di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah Islam di Ujung Pandang pada tahun 1942-1952. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Ujung Pandang,ia melanjutkan studinya ke Sekolah Guru Agama Islam Atas yang juga di Ujung Pandang pada tahun 1952-1955,serta Bahasa Inggris di Ujung Pandang pada tahun 1957-1962.
Pendidikan selanjutnya ia tempuh di Ein Syam University, Cairo, pada tahun 1963-1964 dalam rangka mendapatkan gelar Diploma of Education. Setelah itu ia melanjutkan studi pada program Pascasarjana di Ein Syam University,Cairo pada tahun 1967,dan memperoleh gelar master dalam bidang psikologi dan mental hygiene. Pada tahun 1971, ia memperoleh gelar Ph.D dalam bidang psikologi dari Universitas of Georgia, Amerika Serikat.
2.      Konsep Filsafat Pendidikan Islam
a.       Pengembangan Potensi
b.      Pewarisan Budaya
c.       Interaksi Antar Potensi dan Budaya








DAFTAR PUSTAKA

Langgulung, Hasan . Pendiddikan dan Peradaban Islam.  Jakarta: Pustaka al Husna, 1985.

Langgulung, Hasan. Pendidikan Islam Indonesia; MencariKepastian Historis dalam Islam Indonesia Menatap Masa Depan. Jakarta: P3M, 1989.

Langgulung, Hasan. Pendidikan Islam dalam Abad ke 21 Cet. III (Edisi Revisi. Jakarta: Pustaka AlHusna Baru, 2003.

Nata, Abudin. Pemikiran Pendidikan Islam dan Barat. Jakarta: Rajawali Pers, 2011




                [1] Abudin Nata. Pemikiran Pendidikan Islam dan Barat, (Jakarta: , Rajawali Pers, 2011),341-342.
[2] Hasan Langgulung,Pendiddikan dan Peradaban Islam (Jakarta: Pustaka al Husna, 1985) 248-249.
[3] Hasan Langgulung, Pendidikan Islam Indonesia  (Jakarta: P3M, 1989), 161.
[4] Ibid, 163
[5] Hasan Langgulung, Pendidikan Islam dalam Abad ke 21 (Jakarta: Pustaka AlHusna Baru,2003), Cet. III (Edisi Revisi), 168-169.
[6] Ibid
[7] ibid
[8] ibid

Tidak ada komentar: