Selasa, 18 April 2017

Memahami Isi Kandungan Surah Al-Qur'an Dan Hadist Mengenai Sikap Tawadhu', Sabar, Pemboros Dan Makanan Halal

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Latar Belakang Dalam pergaulan atau kehidupan sehari-hari manusia memiliki akhlaq yang berbeda-beda, ada yang berakhlaq terpuji dan berakhlaq tercela. Akhlaq yang kita miliki menggambarkan kepribadian yang kita miliki pula. Manusia yang berakhlaq baik tentunya akan memiliki sifat, sikap dan tingkah laku yang baik pula. Sebaliknya, manusia yang memiliki akhlaq yang tercela, tentunya cenderung akan memiliki sifat, sikap dan tingkah laku yang tidak baik.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana isi kandungan dan hadist mengenai sikap tawadhu' dan sabar ?
2.      Bagaimana isi kandungan dan hadist mengenai pemboros ?
3.      Bagaimana isi kandungan dan hadist mengenai makanan halal ?











                                                                           



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Isi Kandungan dan Hadist Mengenai Sikap Tawadhu' Dan Sabar
وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ قَالُواْ سَلَٰمٗا ٦٣
Artinya: Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan (Q.S. Al-furqon: 63).

Kandungan surah al-furqon di atas yaitu:
1.      Anjuran untuk bersikap tawadhu'
Tawadhu' berarti rendah hati. maksudnya adalah, sikap yang menunjukkan adanya kerendahan hati dan tidak sombong atau tinggi hati. Orang yang tawaduk tidak suka menampakkan kemampuan yang dimilikinya.
Sikap tawadhu' dimiliki oleh seseorang yang memiliki kesadaran, bahwa hidup berada di bawah penguaasaan dan kekuasaan Allah swt.
Allah mengsifati ibadurrohman sebagai orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, yaitu orang-orang yang tenang, berwibawa dan tawadhu' (merendahkan diri) terhadap Allah dan makhluk. Seorang mukmin hendaklah menghiasi dirinya dengan sikap tawahdu' artinya memandang diri rendah di hadapan Allah dan makhluk lainnya. Sebagaimana hadits Nabi SAW:
عنْ عُرْوَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ أي شَيْءٌ كَانَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟ قَالَتْ: “مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ(رواهاحمد و ابن حبّن)
Artinya: Urwah bertanya kepada ‘Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersamamu (di rumahmu)?” Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember.” (HR. Ahmad 6: 167 dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya no. 5676)[1]

2.      Sabar terhadap gangguan orang lain
Di jelaskan dalam lanjutan ayat "Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka", maknanya berkata perkataan yang jahil, dimana perkataan tersebut menganggu atau menyakitkan, lalu Allah mengsifati ibadurrohman dengan "mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung keselamatan)". Maknanya mengucapkan perkataan yang selamat dari dosa dan selamat dari membalas kejahilan dengan kejahilan. Hendaklah seseorang mengetahui bahwa gangguan yang diberikan manusia merupakan bagian dari takdir Allah. Ujian Allah berbagai macam bentuknya. Memang ujian yang palng sulit diterima adalah jika ujian itu datang melalui tangan manusia. Maka hendaklah seseorang mukmin bersabar terhadap ujian manusia sebagaimana insan bersabar terhadap musibah dari Allah dan lainnya.[2]
B.     Isi Kandungan dan Hadist Mengenai Pemboros
إِنَّ ٱلۡمُبَذِّرِينَ كَانُوٓاْ إِخۡوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِۖ وَكَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورٗا ٢٧
Artinya: Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya (Q.S. Al-isra': 27).

Kandungan surah al-isra' di atas yaitu:
1.      Allah mengingatkan betapa buruknya sifat orang yang boros , mereka dikatakan sebagai saudaranya setan. Orang yang boros bermakna orang yang membelanjakan hartanya dalam perkara yang tidak mengandung manfaat berarti. Inti kandungan dari dua ayat tersebut adalah agar kita mengatur dan membelanjakan harta kita secara tepat, yaitu dengan membelanjakan di jalan Allah, memberikan bagian harta kepada yang berhak dan tidak menghamburkan harta kita  atau boros, sebagaimana hadits Nabi SAW:
عن عمرو بن ثعب عن أبية عن جدّ ه قال: رسو ل الله صلى الله عليه وسلّم كُلْ و ا شْرَ بْ وَالْبَسْ وَتَصَصَدَّقْ في غَيْرِ سَرَفٍ وَلاَ مَخِيْلَةٍ (اخرجه أبوداود و احمد)
Artinya: "Dari Amr bin Sya'ab dari bapaknya dari kakeknya ia berkata:
Rasulullah SAW bersabda: makanlah, minumlah, dan berpakaianlah dan bershodaqohlah dengan tidak berlebih-lebihan dan menyombongkan diri". (H.R. Abu Daud dan Ahmad

2.      Untuk menjauhkan diri dari sesuatu perbuatan yang berkaitan dengan kemewahan dan kesenangan untuk mengabdukan diri keoada Allah. Hidup sederhana di sini bukan berarti orang yang menjauhkan dari kehidupan kemewahan atau dunia selagi kita masih hidup di dunia kita tetap diperlukan untuk mencari harta. Dan bukan berarti orang yang hidup sederhana adalah orang yang miskin. Orang yang kayapun kadang hidup sederhana tergantung bagaiman harta itu mempengaruhi pengabdian kepada Allah SWT. Jika orang kaya itu menganggap hartanya sebagai sarana untuk beribadah dan berdakwah di jalan Allah serta tidak mencintai harta secara berlebihan dan harta bukan menjadi tujuan utama hidupnya.[3]    

C.    Isi Kandungan dan Hadist Mengenai Makanan Halal
فَكُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلٗا طَيِّبٗا وَٱشۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ ١١٤
Artinya: Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah (Q.S. An-nahl: 114).

Kandungan surah an-nahl di atas yaitu:
     Dalam ayat ini Allah menyuruh umat Islam untuk mengonsumsi makanan yang halal dan baik (tayib). Mengkonsumsi makanan tidaklah cukup hanya halal saja namun juga harus baik (tayib). Atau sering kita kenal dengan istilah halalan toyiban. Halalnya makanan ditinjau dari tiga hal, yaitu halal wujudnya, halal cara memperolehnya dan halal cara pengolahannya. Allah telah  menentukan berbagai jenis makanan yang dihalalkan antara lain sebagai berikut:
1.      Semua jenis makanan yang tidak diharamkan oleh Allah dan Rasulnya.
2.      Semua jenis makanan yang tidak kotor dan tidak menjijikkan.
3.      Semua jenis makanan yang tidak mendatangkan mudarat, tidak membahayakan kesehatan tubuh, tidak merusak akal, serta tidak merusak moral dan aqidah
عن ابى عبد الله النّعمان بن بشير رضي الله عنهما قا ل: سَمِعْتُ رسل الله صلى الله عليه وسلم يقول: اَنْ اَلْحَلَا لَ بَيِّنْ وَاِنْ اَلْحَرَامَ بَيِّنْ وَبَيْنَهُمَا اُمُورُ مُشْتَبِهَا تٌ لَايَعْلَمْهُمَا كَثِيْر مِنَ النَّاسِ, فَمَنِ اتَّقَى اشْبَهَاتُ فَقَدْ اِسْتِبْرأُ لِدِيْنِهِ وَعَرْدِهِ, وَمَنْ وَقَعَ فِي الشِّبْهَاتِ وَقَعَ فِي الحَرَامِ, كَا لرَّاعِى حول الحَمِى يُوشَك اَنْيَرْتَعِ فِيهِ, أَلَا وَإِن لِكُلِّ ملك حمى َألَا وَانَّ حَمَى الله محا رمه ألا وَإِن فِى الجَسَدِ مُضْغَةٌ إِدَ صُلِحَتْ صُلْحِ الجَسَدِ كُلَّهُ وَإِذْ فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدِ كُلَّهُ اِلَا وَهِيَ القَلْبُ (رواه البخاري ومسلم)
Artinya: Dari Abu Abdillah Nu'man bin Basyir r.a. "saya mendengar Rasulullah SAW bersabda "sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Diantara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang-orang banyak. Maka barang siapa yang yang takut terhadap syubhat, berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan barang siapa yang terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaiman pengembala yang mengembalakan hewan gembalanya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk dimasukinya, ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang diharamkan. Ketahuilah bahwa di dala diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa dia adalah hati" (H.R. Bukhari dan Muslim). .[4]





























BAB III
KESIMPULAN

A.    Isi Kandungan dan Hadist Mengenai Sikap Tawadhu' Dan Sabar
1.      Anjuran untuk bersikap tawadhu'
Tawadhu' berarti rendah hati. maksudnya adalah, sikap yang menunjukkan adanya kerendahan hati dan tidak sombong atau tinggi hati. Orang yang tawaduk tidak suka menampakkan kemampuan yang dimilikinya.
2.      Sabar terhadap gangguan orang lain.

B.     Isi Kandungan dan Hadist Mengenai Pemboros
1.      Allah mengingatkan betapa buruknya sifat orang yang boros, mereka dikatakan sebagai saudaranya setan. Orang yang boros bermakna orang yang membelanjakan hartanya dalam perkara yang tidak mengandung manfaat berarti.
2.      Untuk menjauhkan diri dari sesuatu perbuatan yang berkaitan dengan kemewahan dan kesenangan untuk mengabdikan diri kepada Allah.

C.    Isi Kandungan dan Hadist Mengenai Makanan Halal
Allah telah menentukan berbagai jenis makanan yang dihalalkan antara lain sebagai berikut:
a.       Semua jenis makanan yang tidak diharamkan oleh Allah dan Rasulnya.
b.      Semua jenis makanan yang tidak kotor dan tidak menjijikkan.
c.       Semua jenis makanan yang tidak mendatangkan mudarat, tidak membahayakan kesehatan tubuh, tidak merusak akal, serta tidak merusak moral dan aqidah.





DAFTAR PUSTAKA

Anggota IKAPI.  Aqidah Akhlak. Klaten: Sinar Mandiri, 2008.

Anggota IKPI. Al-Qur'an dan Hadits untuk MA. Solo:Putra Kertonatan, 2008.

Hidayat, Ahmad dkk, Fiqih. Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia. 2015.



               
[2] Anggota IKPI, Al-Qur'an dan Hadits untuk MA (Solo:Putra Kertonatan, 2008), 23
[3]Ibid., 23-24
[4]Anggota IKAPI, Aqidah Akhlak (Klaten: Sinar Mandiri, 2008), 51

Tidak ada komentar: