Rabu, 05 April 2017

TOKOH MAHABBAH & MAKRIFAH



TOKOH DALAM MAHABBAH
Sufi termashur dalam mahabbah ialah Rabiah al Adawiyah (713-801) dari Basrah Irak. Ia seorang hamba sahaya yang dibebaskan. Berikutnya ia bertekun dalam beribadat, bertaubat, mengesampingkan duniawi dan memusatkan perhatian pada Sang Pemilik dunia itu. Dalam doanya dia tidak meminta hal-hal material dari Tuhan. Pada akhirnya, Tuhan baginya merupakan zat yang dicintai hingga meluaplah dalam hatinya rasa cinta yang mendalam kepada-Nya, hingga terlontar ucapan bersenandung.
Aku mengabdi kepada-Mu
Bukan karena takut neraka, dan bukan pula karena ingin ke syurga
Tetapi aku mengabdi kepada-Mu karena cintaku pada-Mu
Tuhanku
Jika Engkau akan menjauhkan hamba-Mu dari neraka
Jauhkanlah dari neraka itu hamba yang menginginkannya
Jika Engkau akan memasukan hamba-Mu ke Syurga
Masukanlah ke Syurga hamba yang menginginkannya
Tetapi,
Jika Engkau disembah hanya karena-Mu semata
Maka janganlah kau sembunyikan Kecantikan-Mu yang kekal itu dari hamba-Mu ini
Tuhanku, gemintang di langit telah gemerlap, mata telah bertiduran, pintu-pintu istana telah dikunci, dan tiap pecinta telah menyendiri dengan yang dicintainya, dan inilah aku berada di hadirat-Mu
Dalam bentuk Syair, Rabiah Al Adawiyah mengatakan :
Aku mencintai-Mu dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu
Cinta karena diriku
Adalah keadaanku yang senantiasa mengingat-Mu
Dan cinta karena diri-Mu
Adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir hingga Engkau kulihat
Baik untuk ini maupun untuk itu, pujian bukanlah bagiku.
Bagi-Mu lah pujian untuk semuanya.
Inilah beberapa ucapan rasa cinta Rabiah Al Adawiyah kepada Tuhan, yang begitu memenuhi seluruh jiwanya, dia merasa bahwa dirinya adalah milik Tuhan yang dicintainya, sehingga yang berkenaan dengan itu harus seizing-Nya. Saat yang lain pernah pula dikatakannya bahwa : Cintaku pada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong dalam diriku untuk benci kepada syaitan. Disaat lain lagi mengatakan : Saya cinta kepada Nabi, tetapi cintaku kepada pencipta memalingkanku dari cinta kepada Makhluk . Demikianlah gambaran maqam mahabbah yang dilahirkan oleh seorang sufi dari rasa cintanya kepada Tuhan.

TOKOH DALAM MAKRIFAH
Yang dipandang sebagai bapak Makrifah ini adalah Zun Nun al-Misri (w 860 M) yang memandang tiga tingkat Makrifat yaitu :
1)    Makrifat awam , yaitu mengenal-Nya melalui ucapan syahadat ; (Sebagai pengetahuan )
2)   Makrifat alim, yaitu mengenal-Nya melalui argumen logis ; (Sebagai pengetahuan )
3)  Makrifat arif, yaitu mengenal-Nya melalui hati; (Sebagai makrifat).
Makrifat pertama dan kedua, merupakan pengetahuan yang bukan hakiki tentang Tuhan. Keduanya disebut dengan ilmu dan bukan makrifah. Makrifah dalam arti ketiga itulah yang dimaksud dengan pengetahuan hakiki tentang Tuhan. Pengetahuan ini disebut dengan Makrifah. Makrifah terdapat pada kaum sufi karena berupaya melatih kualitas hati, dan Makrifah tempatnya di hati bukan di kepala.
Ketika Zun nun memperoleh tingkat makrifah, ia mengungkapkan bahwa : aku mengenal Tuhan melalui Tuhan, dan sekiranya karena Tuhan, aku tidak akan tahu tentang Tuhan.
Ini menggambarkan bahwa makrifah itu diperoleh melalui rahmat Tuhan kepada sufi yang dipandang siap, layak, pantas untuk memperolehnya, dan bukan hasil dari pemikiran manusia.
Menurut al Qusyairi, ada tiga alat yang digunakan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan. Qalbu untuk mengenal sifat-sifat Tuhan, ruh untuk mencintai Tuhan, dan sir untuk melihat Tuhan. Sir lebih halus dari ruh lebih halus dari qalb, dan qalb itu tidak sama dengan hati dan jantung. Setelah qalbunya bersih, maka sir muncul danmenerima illuminasi dari-Nya. Dia menurunkan cahaya-Nya, maka sampailah ia pada tingkat Makrifah. Memperoleh Makrifah merupakan suatu proses yang bersifat kontinyu. Memperoleh Makrifat yang penuh tentang Tuhan, merupakan suatu hal yang tidak mungkin, karena semacam secangkir the yang tidak akan pernah bisa menampung semua air yang ada di samudera, Demikian kata Junaed.
Konsep Makrifat ini diterima oleh Al- Ghazali. Al-Ghazali lah yang membuat tasawuf menjadi halal bagi kaum syariat, setelah kaum ulama memandangnya sebagai hal yang menyeleweng dari Islam seperti tasawuf yang diajarkan oleh Al-Busthami dengan konsep ijtihadnya dan al Hallaj dengan konsep hululnya. Bagi Al-Ghazali makrifah itu berarti mengetahui rahasia Allah dan mengetahui aturan-aturan Nya tentang segala yang ada. Ghazali menjelaskan bahwa orang arif tidak akan mengatakan, Ya Allah atau Ya Rabb, karena memanggil tuhan dengan kata-kata serupa itu menyatakan bahwa Tuhan ada dibelakang tabir, orang yang duduk berhadapan dengan temannya tidak akan memanggil temannya itu.
Bagi Al-Ghazali, Urutan Makrifah dulu kemudian Mahabbah, karena Mahabbah timbul dari Makrifah. Dalam konteks ini Mahabbah berarti cinta seseorang kepada yang berbuat baik kepadanya. Cinta yang timbul dari rahmat Tuhan kepada manusia yang member manusia hidup, kesenangan dan sebagainya. Bagi Al-Ghazali makrifah dam mahabbah inilah yang setinggi-tinggi tingkat yang dapat dicapai oleh seorang sufi. Pengetahuan yang diperoleh dari makrifah lebih tinggi mutunya dari pengetahuan yang diperoleh dengan akal.

Tidak ada komentar: