Minggu, 26 Maret 2017

Makalah Masa kenabian Nabi Muhammad SAW



BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
            Setelah Nbi Muhammad SAW.lahir kondisi bangsa arab berubah sangat drastic,bangsa arab yang dulunya dihuni oleh orang jahiliyah yang mayoritas penduduknya menyembah berhala untuk menjadi pujaanya ,dan mereka mendirikan kabilah kabilah yang dipimpin oleh seorang syekh ,dan diantara kabilah satu dengan yang lainya saling bermusuhan dan berperang demi mempertahankan suku atau kabilahnya .pada saat itu belum ada agama yangmereka anut,apalagi agama islam, karena mereka hanya percaya kepada berhala pujaanya.
            Kondisi bangsa arab menjadi sangat baik ,mulai dari lahirnya nabi Muhammad di bumi ini,dan setelah nabi Muhammad SAW.diangkat menjadi nabi agama islam masuk dengan cara yang bertahap,namun dalam menyebarkan agama islam nabi Muhammad mengalami banyak rintangan ,namun nabi Muhammad tidak pernah menyerah dalam menyebarkan agama islam, nabi Muhammad menggunakan metode dakwah secara terang terangan dan secara sembunyi sembunyi ,dan dimulai dari keluarga terdekat,dan dari keluarga dekatnya pun juga ada yang menentang ajarannya nabi.
            Tahap demi tahap dakawah nabi semakin maju dan semakin banyak pula pengikutnya,tapi meskipun demikian masih MENGALAMI BANYAK RINTANGAN,oleh karena itu,kami mencoba membuat makalh ini yang membahas mengenai masa kenabian Nabi Muhammad.






BAB II
PEMBAHASAN

1.      KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAW.
Secara esensial, kehadiran Nabi Muhammad pada masyarakat Arab adalah terjadinya kristalisasi pengalaman baru dalam dimensi ketuhanan yang memengaruhi segala aspek kehidupan masyarakat, termasuk huku-hukum yang digunakan pada masa itu. Keberhasilan Nabi Muhammad dalam memenangkan kepercayaan bangsa Arab pada waktu yang relatif singkat kemampuannya dalam modifikasi jalan hidup orang-orang Arab. Sebagian dari nilai dan budaya Arab pra islam, untuk beberapa hal diubah dan diteruskan oleh masyarakat Muhammad ke tatanan moral islam. Secara geneologis, ia merupakan keturunan suku Quraisy, suku yang terkuat dan berpengaruh di Arab.
Nabi Muhammad dilahirkan pada tahun gajah kira-kira pada tahun 570M (12 Rabiul Awal). Setelah diasuh beberapa lama oleh ibunya yang bernama Aminah, Muhammad dipercayakan kepada Halimah dari suku Banu Sa'ad untuk diasuh dan dibesarkan. Dia diasuh hingga berusia 6 tahun. Ketika dia dikembalikan kepada ibunya, pada saat itu ibunya bermaksud menziarahi makam suaminya Abdullah di Madinah. Namun ditengah perjalanan, yaitu di Abwa, Madinah, Aminah menderita sakit dan menghembuskan nafas terakhir disana.
Setelah Aminah meninggal, Abdul Muthalib mengambil alih tanggung jawab mengasuh Muhammad. Namun dua tahun kemudian Abdul Muthalib meninggal dunia karena renta. Tanggung jawab selanjutnya beralih ke pamannya, Abu Thalib, orang yang disegani dan dihormati orang Quraisy dan penduduk Mekah secara keseluruhan, tetapi dia miskin. Dalam usia muda, Muhammad hidup sebagai penggembala kambing keluarganya dan kambing penduduk Mekah. Melalui kegiatan ini, dia menemukan tempat untuk berfikir dan merenung. Pemikiran dan perenungan ini membuatnya jauh dari segala pemikiran nafsu duniawi, sehingga ia terhindar dari berbagai macam noda yang dapat merusak namanya. Oleh karena itu, sejak muda ia sudah dijuluki al-amin, orang yang terpercaya.
Selanjutnya, Nabi Muhammad melakukan perjalanan (usaha) untuk pertama kali dalam khafilah dagang ke Siria (Syam) dalam usia 12 tahun. Khafilah itu dipimpin oleh Abu Thalib. Dalam perjalanan ini, di Bushra, sebelah selatan Siria ia bertemu dengan pendeta Kristen bernama Buhairah. Pendeta ini melihat tanda-tanda kenabian pada Muhammad sesuai dengan petunjuk cerita-cerita Kristen. Pendeta itu menasihati Abu Thalib agar tidak terlalu jauh memasuki daerah Siria, sebab dikhawatirkan orang-orang Yahudi yang mengetahui tanda-tanda itu akan berbuat jahat terhadapnya. Perkiraan pendeta tersebut akhirnya dibuktikan dengan sejarah kenabian Muhammad sampai sekarang.
Ketika Nabi Muhammad berusia 25 tahun, ia berangkat ke Siria membawa barang dagangan seorang saudagar wanita kaya raya yang telah menandatangani, Khadijah. Dalam perdagangan ini, Muhammad memperoleh laba yang besar. Khadijah kemudian melamarnya. Lamaran itu diterima dan perkawinan segera dilaksanakan. Ketika itu Muhammad berusia 25 tahun dan Khadijah berusia 40 tahun. Dalam perkembangan selanjutnya Khadijah adalah wanita pertama yang masuk islam dan banyak membantu Nabi dalam perjuangan menyebarkan islam. Perkawinan bahagia dan saling mencintai itu dikaruniai enam orang anak, dua anak putra dan empat anak putri : Qasim, Abdullah, Zainab, Rukayah, Ummu Kulsum, dan Fatimah. Kedua putranya meninggal waktu kecil. Nabi Muhammad tidak menikah lagi sampai Khadijah meninggal ketika Muhammad berusia 50 tahun.[1]
2.      GAMBARAN UMUM : MISI MUHAMMAD SAW.
Secara historis, perjalanan Nabi Muhammad SAW, sebagai pembawa misi risalah langit terbagi dalam tiga periode, yaitu pertama, periode pra-kerasulan; kedua, periode kerasulan, dan ketiga, pasca-kerasulan. Tahap kedua sejarah kenabian ini diawali dengan dua kondisi demografis-sosioligis Arab, yakni kondisi pada masa Makiyyah dan masa Madaniyyah. Kehadiran Nabi Muhammad SAW., identik dengan latar belakang kondisi masyarakat Arab, khususnya orang-orang Mekah. Para sejarawan, baik islam maupun non-islam tidak berbeda dalam melukiskan keberadaan mereka.
Kehidupan masyarakat Arab secara sosiopolitis mencerminkan kehidupan derajat yang rendah. Perbudakan, perzinahan, mabuk, eksploitasi, ekonomi dan perang antarsuku menjadi karakter perilaku mereka. Situasi chaos semacam ini berlangsung sejak para pendahulu mereka mendiami negeri tersebut. Dari aspek kepercayaan atau agama, orang-orang Arab Mekah adalah penyembah berhala. Tidak kurang dari tiga ratus berhala yang mereka anggap sebagai Tuhan atau pelindung manusia. Berangkat dari kondisi inilah dalam sejarah dicatat bahwa Muhammad sering melakukan kontemplasi ('uzlah), untuk mendapatkan suatu jawaban apa dan bagaimana seharusnya membangun kehidupan masyarakat Arab. Setelah melalui proses kontemplasi yang cukup lama, tempatnya di Gua Hira, akhirnya Muhammad mendapat suatu petunjuk dari Allah melalui Malaikat Jibril untuk mengubah masyarakat Arab Mekah. Dari sinilah awal sejarah penyebaran dan perjuangan Nabi Muhammad SAW. dalam menegakkan ajaran islam dimulai.
Para Nabi dan rasul yang diutus oleh Allah, dilihat dari pendekatan visi dan misi, dapat dibagi ke dalam bagian, pertama Nabi yang hanya membawa dokrin teologis semata dan kedua Nabi yang membawa dokrin teologis sekaligus membawa dokrin politis. Dokrin teologis adalah dokrin yang menekankan substansi moral dalam mempersatukan ideal moral manusia dengan ideal moral Tuhan tanpa melakukan perubahan sosial politik sebagai bagian dari proses ideal moral tersebut, sedangkan dokrin teologis politis adalah dokrin yang mengedepankan ajakan moral sekaligus berusaha melakukan perubahan sistem untuk menata intitusi-intitusi sosial dan politik.
Para nabi yang tergolong pembawa dokrin teologis politis ini, diantaranya adalah nabi-nabi yang bergelar Ulul 'zmi. Nabi Muhammad SAW. termasuk bagian ini karena ia, selain mengajarkan nilai-nilai islam yang berkenaan dengan hal-hal yang bersifat aksentis (keakhiratan) juga berusaha beserta umatnya menata kekuatan untuk mengambil alih peran kepemimpinan dan pemerintahan orang-orang Quraisy. Peran ini sangat dominan, terutama pada masa nabi berada di Madinah.[2]
3.       PERADABAN PADA MASA RASULULLAH SAW.
Peradaban atau kebudayaan pada masa Rasulullah SAW. yang paling dahsyat adalah perubahan sosial. Suatu perubahan mendasar dari masa kebobrokan moral menuju moralitas yang beradab. Dalam tulisan Ahmad Al-Husairy, diuraikan bahwa peradaban pada masa Nabi dilandasi dengan asas-asas yang diciptakan sendiri oleh Muhammad di bawah bimbingan wahyu. Diantaranya sebagai berikut :
1. Pembangunan Masjid Nabawi
2. Persaudaraan antara Kaum Muhajirin dan Anshar
3. Kesepakatan untuk Saling Membantu antara Kaum Muslimin dan Non-Muslimin
4. Peletakan Asas-asas Politik, Ekonomi dan Sosial
Secara sistematik, proses peradaban yang dilakukan oleh Nabi pada masyarakat islam di Yatsrib adalah :pertama, Nabi Muhammad SAW. mengubah nama Yatsrib menjadi Madinah (Madinat Ar-Rasul, Madinah An-Nabi, atau Madinah Al-Munawwarah). Perubahan nama yang bukan terjadi secara kebetulan, tetapi perubahan nama yang menggambarkan cita-cita Nabi Muhammad SAW., yaitu membentuk sebuah masyarakat yang tertib dan maju, dan berperadaban; kedua, membangun masjid. Masjid bukan hanya dijadikan pusat kegiatan ritual shalat saja, tetapi juga menjadi sarana penting untuk mempersatukan kaum muslimin dengan musyawarah dalam merundingkan masalah-masalah yang dihadapi. Di samping itu, masjid juga menjadi pusat kegiatan pemerintahan; ketiga, Nabi Muhammad SAW. membentuk kegiatan mu'akhat (persaudaraan), yaitu mempersaudarakan kaum Muhajirin (orang-orang yang hijrah dari Mekah ke Yatsrib) dengan Anshar (orang-orang yang menerima dan membantu kepindahan Muhajirin di Yatsrib). Persaudaraan diharapkan dapat mengikat kaum muslimin dalam satu persaudaraan dan kekeluargaan. Nabi Muhammad SAW. membentuk persaudaraan yang baru, yaitu persaudaraan seagama, disamping persaudaraan yang sudah ada sebelumnya, yaitu bentuk persaudaraan berdasarkan darah; keempat, membentuk persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama islam; dan kelima, Nabi Muhammad SAW. membentuk pasukan tentara untuk mengantisipasi gangguan-gangguan yang dilakukan oleh musuh.
Mengomentari tentang perubahan nama Yatsrib menjadi Madinah, dalam pandangan Nurholish Madjid, bahwa agenda-agenda politik kerasulan telah diletakkan dan beliau bertindak sebagai utusan Allah, kepala negara, komandan tentara, dan pemimpin kemasyarakatan. Semua yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. di kota hijrah itu merupakan refleksi dari ide yang terkandung dalam perkataan Arab Madinah, yang secara etimologis berarti tempat peradaban, yaitu padanan perkataan Yunani polis, (seperti dalam nama kota Constantinopel). Dan Madinah dalam arti itu sama dengan hadarah dan tsaqarah, yang masing-masing sering di terjemahankan, berturut-turut, peradaban dan kebudayaan, tetapi secara etimologis mempunyai arti pola kehidupan menetap sebagai lawan badawah yang berarti "pola kehidupan mengembara", nomad. Oleh karena itu, perkataan madinah, dalam peristilahan modern, menunjukkan pada semangat dan pengertian civil society, suatu istilah Inggris yang berarti "masyarakat sopan, beradab, dan teratur" dalam bentuk negara yang baik. Dalam arti (al-insanu madniy-un bi ath-thab'i) "manusia menurut naturnya adalah bermasyarakat budaya" merupakan padanan adagium terkenal Yunani bahwa manusia adalah zoon politicon.
Munawir Syadzali menguraikan bahwa dasar-dasar kenegaraan yang terdapat dalam piagam Madinah adalah : pertama, umat islam merupakan satu komunitas (umat) meskipun berasal dari suku yang beragam; dan kedua, hubungan antara sesama anggota komunitas islam dan antara anggota komunitas islam dengan komunitas-komunitas lain didasarkan atas prinsip-prinsip : a) bertetangga baik; b) saling membantu dalam menghadapi musuh bersama; c) membela mereka yang dianiaya; d) saling menasihati; dan e) menghormati kebebasan beragama.[3]
4.      Masa Kenabian
Menjelang usianya yang keempat puluh, dia sudah terlalu biasa memisahkan diri dari kegalauan masyarakat, berkontemplasi ke Gua Hira’, beberapa kilometer di Utara Makkah. Di sana Muhammad mula-mula berjam-jam kemudian berhari-hari bertafakkur. Pada tanggal 17 Ramadhan tahun 611 M, malaikat Jibril muncul dihadapannya, meyampaikan wahyu Allah yang pertama. “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah mencipta. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu itu Maha Mulia. Dia telah mengajar dengan Qalam. Dia telah mengajar manusia apa yang tidak mereka ketahui (QS 96: 1-5). Dengan turunnya wahyu pertama itu, berarti Muhammad telah dipilih Tuhan sebagai nabi. Dalam wahyu pertama ini, dia belum diperintahkan untuk menyeru manusia kepada suatu agama.
Setelah wahyu pertama itu datang, Jibril tidak muncul lagi untuk beberapa lama, sementara Nabi Muhammad menantikannya dan selalu datang ke gua Hira’. Dalam keadaan menanti itulah turun wahyu yang membawa perintah kepadanya. Wahyu itu berbunyi sebagai berikut: “Hai orang yang berselimut, bangun, dan beri ingatlah. Hendaklah engkau besarkan Tuhanmu dan bersihkanlah pakaianmu, tinggalkanlah perbuatan dosa, dan janganlah engkau memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu bersabarlah (Al Muddatstsir: 1-7).
Dengan turunnya perintah itu, mulailah Rasulullah berdakwah. Pertama-tama beliau melakukannya secara diam-diam di lingkungan sendiri dan rekan-rekannya. Karena itulah, orang yang pertama kali menerima dakwahnya adalah keluarga dan sahabat dekatnya. Mula-mula istrinya sendiri, Khadijah lalu Ali bin Abi Thalib ketika berumur 10 tahun, dan Abu Bakar  sahabatnya, kemudian Zaid. Ummu aiman, pegasuh nabi sejak kecil juga termasuk orang yang pertama masuk islam. Sebagai seorang pedagang yang berpengaruh, Abu Bakar berhasil mengislamkan beberapa orang teman dekatnya, seperti Usman bin Affab, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah. Mereka dibawa Abu Bakar langsung kepada nabi dan masuk Islam di hadapan nabi sendiri. Dengan dakwah secara diam-diam ini, belasan orang telah memeluk agama islam.
Setelah beberapa lama dakwah tersebut dilaksanakan secara individual turunlah perintah agar nabi menjalankan dakwah secara terbuka. Mula-mula ia mengundang dan menyeru kerabat karibnya dari Bani Abdul Muthalib. Ia mengatakan kepada mereka, “Saya tidak melihat seorang pun di kalangan Arab yang dapat membawa sesuatu ke tengah-tengah mereka lebih baik dari apa yang saya bawa kepada kalian. Kubawakan kepadamu dunia dan akhirat yang terbaik. Tuhan memerintahkan saya mengajak kalian semua. Siapakah diantara kalian yang mau mendukung saya dalam hal ini?”. Mereka semua menolak kecuali Ali.
Langkah dakwah selanjutnya yang diambil Muhammad adalah menyeru masyarakat umum. Nabi mulai menyeru segenap lapisan masyarakat kepada Islam dengan terang-terangan, baik golongan bangsawan maupun hamba sahaya. Mula-mula ia menyeru penduduk Makkah, kemudian penduduk negeri-negeri lain. Disamping itu, ia juga menyeru orang-orang yang datang ke Makkah, dari berbagai negeri untuk mengerjakan haji. Kegiatan dakwah dijalankan tanpa mengenal lelah. Dengan usahanya yang gigih, hasil yang diharapkan mulai terlihat. Jumlah pengikut nabi yang tadinya hanya belasan orang, makin hari makin bertambah. Mereka terutama terdiri dari kaum wanita, budak, pekerja, dan orang-orang yang tak punya. Meskipun kebanyakan mereka adalah orang-orang yang lemah, namun semangat mereka sungguh membaja.
Setelah dakwah terang-terangan itu, pemimpin Quraisy mulai berusaha menghalangi dakwah Rosul. Semakin bertambahnya jumlah pengikut nabi, semakin keras tantangan dilancarkan kaum Quraisy. Menurut Ahmad Syalabi, ada lima factor yang mendorong orang-orang Quraisy menentang seruan islam itu.[4] 1. Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan. Merekamengira bahwa tunduk kepada seruan Muhammad berarti tunduk kepada kepemimpinan Bani Abdul Muthalib. Yang terakhir ini sangat tidak mereka inginkan. (2) Nabi Muhammad menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya. Hal ini tidak disetujui oleh kelas bangsawaan Quraisy. (3) para pemimpin Quraisy tidak dapat menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan pembalasan di akhirat. (4) taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berurat yang berakar pada bangsa Arab. (5) pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang rezeki.
Banyak cara yang ditempuh para pemimpin Quraisy untuk mencegah dakwah Nabi Muhammad. Pertama-tama mereka mengira bahwa, kekuatan nabi terletak pada perlindungan dan pembelaan Abu Thalib yang amat disegani itu. Karena itu mereka menyusun siasat bagaimana melepaskan hubungan nabi dengan Abu Thalib dan mengancam dengan mengatakan: “Kami minta Anda memilih satu diantara dua: memerintahkan Muhammad berhenti dari dakwahnya atau Anda menyerahkannya kepada kami. Dengan demikian, Anda akan terhindar dari kesulitan yang tidak diinginkan.”Tampaknya, Abu Thalib cukup terpengaruh dengan ancaman tersebut, sehingga ia mengharapkan Muhammad menghentikan dakwahnya. Namun, Nabi menolak dengan mengatakan: “Demi Allah saya tidak akan berhenti memperjuangkan amanat Allah ini, walaupun seluruh anggota keluarga dan sanak saudara akan mengucilkan saya.” Abu Thalib sangat terharu mendengar jawaban kemenakannya itu, kemudian berkata: “Teruskanlah, demi Allah aku akan terus membelamu”.
Merasa gagal dengan cara ini, kaum Quraisy kemudian mengutus Walid ibn Mughirah dengan membawa Umarah ibn Walid, seorang pemuda yang gagah dan tampan, untuk dipertukarkan dengan Nabi Muhammad, Walid bin Mughirah berkata kepada Abu Thalib: “Ambillah dia menjadi anak Saudara, tetapi serahkan Muhammad kepada kami untuk kami bunuh.” Usul ini langsung ditolak keras oleh Abu Thalib.
Untuk kali berikutnya, mereka langsung kepada Nabi Muhammad. Mereka mengutus Utbah ibn Rabiah, seorang ahli retorika, untuk membujuk nabi. Mereka menawarkan tahta wanita, dan harta asal Nabi Muhammad bersedia menghentikan dakwahnya. Semua tawaran itu ditolak Muhammad dengan mengatakan: “Demi Allah, biar pun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti melakukan ini, hingga agama ini menang atau aku binasa karenanya.”
Setelah cara-cara diplomatik dan bujuk rayu yang dilakukan oleh kaum Quraisy gagal, tindakan-tindakan kekerasan secara fisik yang sebelumnya sudah dilakukan semakin ditingkatkan. Tindakan kekerasan itu lebih intensif dilakukan setelah mereka mengetahui bahwa di lingkungan rumah tangga mereka sendiri sudah ada yang masuk Islam. Budak-budak yang selama ini mereka anggap sebagai harta, sekarag sudah ada yang masuk islam dan mempunyai kepercyaan yang berbeda dengan tuan mereka. Budak-budak itu disiksa tuannya dengan sangat kejam. Para pemimpin quraisy juga mengharuskan setiap keluarga untuk menyiksa anggota keluarganya yang masuk islam sampai dia murtad kembali.
Kekejaman yang dilakukan oleh pnduduk makah terhadap kaum muslimin itu, mendorong nabi Muhammad untuk mengungsikan sahabat-sahabatnya keluar makkah. Pada tahun kelima kerasulannya, nabi menetapkkan Habsyah (Ethiopia) sebagai negeri tempat pengungsian, karena Negus (raja) negeri itu adalah seorang yang adil. Rombongan pertama sejumlah sepuluh orang pria dan empat orang wanita, di antaranya Usman bin Affan beserta istrinya Rukayah puteri Rosullulah, Zubair ibn Awwam dan Abdurrahman ibn ‘Auf. Kemudian menyusul rombongan kedua sejumlah hampir seratus orang, dipimpin oleh Ja’far ibn Abu Thalib. Usaha orang-orang Quraisy untuk menghalangi hijrah ke Habsyah ini, termasuk membujuk Negus agar menolak kehadiran umat Islam di sana, gagal. Di samping itu, semakin kejam mereka memperlakukan umat Islam, semakin banyak orang yang masuk agama ini. Bahkan, di tengah meningkatnya kekejaman itu, dua orang kuat Quraisy masuk Islam, Hamzah dan Umar ibn Khathab.Dengan masuk islamnya dua tokoh besar ini posisi umat islam semakin kuat.
Menguatnya posisi umat islam memperkeras reaksi kaum musyrik Quraisy. Mereka menempuh cara baru dengan melumpuhkan kekuatan Muhammad yang bersandar pada perlindungan Bani Hasyim. Dengan demikian untuk melumpuhkan kaum Muslimin yang dipimpin oleh Muhammad mereka harus melumpuhkan Bani Hasyim terlebih dahulu secara keseluruhan. Cara yang ditempuh ialah pemboikotan. Mereka memutuskan segala bentuk hubungan dengan suku ini. Tidak seorang penduduk Makkah pun diperdiperkenankan melakukan hubungan jual beli dengan Bani Hasyim. Persetujuan dibuat dalam bentuk piagam yang ditandatangani bersama dan disimpan di dalam Ka’bah. Akibat boikot tersebut, Bani Hasyim menderita kelaparan, kemiskinan, dan kesengsaraan yang taka da bandingannya. Untuk meringankan penderitaan itu, Bani Hasyim akhirnya pindah ke suatu lembah di luar kota Makkah. Tindakan pemboikotan yang dimulai pada tahun ke-7 kenabian ini berlangsung selama tiga tahun. Ini merupakan tindakan paling menyiksa dan melemahkan umat islam.
Pemboikotan itu baru berhenti setelah beberapa pemimpin Quraisy menyadari bahwa apa yang mereka lakukan sungguh suatu tindakan yang keterlaluan. Setelah boikot dihentikan,Bani Hasyim seakan dapat bernafas kembali dan pulang ke rumah masing-masing. Namun tidak lama kemudian Abu Tholib, paman Nabi yang merupakan pelindung utamanya, meninggal dunia dalam usia 87 tahun. Tiga hari setelah itu, Khadijah, istri Nabi, meninggal dunia pula. Peristiwa itu terjadi pada tahun kesepuluh kenabian. Tahun ini merupakan tahun kesedihan bagi Nabi Muhammad saw. Sepeninggal dua pendukungitu, kafir Quraisy tidak segan-segan lagi melampiaskan nafsu amarahnya terhadap Nabi. Melihat reaksi penduduk Makkah demikian rupa, Nabi kemudian berusaha menyebarkan Islam ke luar kota. Namun di Thaif ia diejek, disoraki, dan dilempari batu, bahkan sampai terluka dibagian kepala dan badannya.
Untuk menghibur Nabi yang sedang ditimpa duka, Allah mengisra’ dan memikhrajkan beliau pada tahun ke-10 kenabian itu. Berita tentang Isra’ dan Mikhraj ini menggemparkan masyarakat Makkah. Bagi orang kafir, ia dijadikan bahan propaganda untuk mendustakan nabi. Sedangkan, bagi orang yang beriman,ia merupakan ujian keimanan.
Setelah peristiwa Isra’ dan Mikhraj, suatu perkembangan besar bagi kemajuan dakwah Islam muncul. Perkembangan datang dari sejumlah penduduk Yatsrib yang berhaji ke Makkah. Mereka yang terdiri dari suku ‘Aus dan Khazraj, masuk Islam dalam tiga gelombang.[5] Pertama, pada tahun kesepuluh kenabian, beberapa orang Khazraj berkata kepada Nabi : “Bangsa kami telah lama terlibat dalam permusuhan, yaitu antara suku Khazraj dan ‘Aus. Mereka benar-benar merindukan perdamaian. Kiranya Tuhan mempersatukan mereka kembali dengan perantaraan engkau dan ajaran-ajaran yang engkau bawa, Oleh karena itu, kami akan berdakwah agar mereka mengetahui agama yang kami terima dari engkau ini.” Mereka giat mendakwahkan Islam di Yatsrib. Kedua, pada tahun keduabelas kenabian delegasi Yatsrib, terdiri dari sepuluh orang suku Khazrajdan dua orang suku Ausserta seorang wanita menemui Nabi di suatu tempat bernama Aqabah. Di hadapan Nabi mereka menyatakan ikrar kesetiaaan. Rombongan ini kemudian kembali ke Yastrib sebagai juru dakwadh dengan ditemani oleh Mus’ab bin Umair yang sengaja diutus Nabi atas permintaan mereka. Ikrar ini disebut dengan perjanjian ‘Aqabah Pertama’. Pada musim haji berikutnya, jamaah haji yang datang dari Yatsrib berjumlah 73 orang. Atas nama penduduk Yatsrib, mereka meminta pada nabi agar berkenan pindah ke Ytsrib. Mereka berjanji akan membela Nabi dengan segala ancaman. Nbi pun menyetujui usul yang mereka ajukan. Perjanjian ini disebut perjanjia ‘Aqabah Kedua’.
Setelah kaum musyikin Quraisy mengetahui adanya perjanjian antara Nabi dan orang-orang Yatsrib itu, mereka kian gila melancarkan intimidasi terhadap kaum Muslimin. Hal ini membuat Nabi segera memerintahkan para sahabatnya untuk hijrah ke Yatsrib. Dalam waktu dua bulan, hamper semua kaum Muslimin, kurang lebih 150 orang, telah meninggalkan kota Makkah. Hanya Ali dan Abu Bakar yang tetap tinggal di Makkah bersama  Nabi. Keduannya membela dan menemani Nabi sampai ia pun berhijrah ke Yatsrib karena kafir Quraisy sudah merencanakan akan membunuhnya.
Dalam perjalanan ke Yatsribnabi ditemani oleh Abu Bakar. Ketika tiba di Quba, sebuah desa yang jaraknya sekitar lima kilometer dari Yatsrib, Nabi istirahat beberapah hari lamanya. Dia menginap di rumah Kalsum bin Hindun. Di halaman rumah ini Nabi membangun sebuah masjid. Inilah masjid pertaman yang dibangun Nabi, sebagai pusat peribadatan. Tak lama kemudian, Ali menggabungkan diri dengan Nabi, setelah menyelesaikan segala urusan di Makkah. Sementara itu penduduk Yatsrib menunggu-nunggu kedatangannya.Waktu yang mereka tunggu-tunggu itu tiba. Nbi memasuki Yatsrib dan pendududk kota ini mengelu-elukan kedatangan beliaudengan penuh kegembiraan. Sejak itu , sebagai penghormatan terhadap Nabi, nama kota Yatsrib diubah menjadi Madinatun Nabi( Kota Nabi) atau sering juga disebut Madinatul Munawwarah (Kota yang Bercahaya), karena dari sanalah sinar Islam memancar ke seluruh dunia. Dalam istilah sehari-hari, kota ini disebut Madinah saja.





BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
·         Perjalanan Nabi Muhammad membawa misi yang terbagi menjadi tiga periode yaitu periode kerasullan,periode kerasullan,periode pasca kerasullan .Peradaban pada masa Rasulullah SAW.yang paling dahsyat adalah merubah dari moralitas kebodohan menuju moral yang beradap,diantara peradaban pada masa rasulullah adalah pembangunan masjid nabawi,persaudaraan kaum muhajirin dan ansor,kesepakatan saling membantu antara muslim dan non muslim,dan peletakan asas asas politik,ekonomi dan social.
·         Banyak cara yang dilakukan oleh kaum qurais untuk menggagalkan misi Nabi Muhammad SAW.mulai dari bujuk rayu tahta wanita,kekerasan dan lain-lain.Namun semua yang dilakukan oleh kaum qurais gagal dan Nabi tetap melanjutkan misinya.



[1] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008),hlm.59-61.
[2]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008),hlm.62-63.
[3]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008),hlm.63-65.
[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2008), hlm.20.
[5]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2008), hlm.24.

Tidak ada komentar: