Minggu, 26 Maret 2017

Psikologi Perkembangan pada masa anak akhir



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Anak adalah mahluk yang lahir dari sepasang orang tua, anak adalah manusia yang belum dewasa, anak adalah titipan Allah SWT, anak sebagai amanah, anak merupakan masa depan bangsa dan sebagainya. Dari sudut perkembanganya, sejak anak dilahirkan sampai tahun-tahun pertama anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Para ahli berpendapat bahwa perkembangan pada tahun-tahun awal lebih kritis dibandingkan dengan perkembangan selanjutnya, sehingga dikatakan bahwa “masa kanak-kanak merupakan gambaran awal manusia sebagai seorang manusia”. Para ahli neuroscience mengemukakan bahwa, anak sejak dilahirkan telah memiliki milayaran sel neuron yang siap dikembangkan.
Perkembangan anak penting dijadikan perhatian khusus bagi orangtua. Sebab, proses tumbuh kembang anak akan mempengaruhi kehidupan mereka pada masa mendatang. Jika perkembangan anak luput dari perhatian orangtua (tanpa arahan dan pendampingan orangtua), maka anak akan tumbuh seadanya sesuai dengan yang hadir dan menghampiri mereka.

B.     Rumusan masalah
1.      Apa pengertian psikologi perkembangan ?
2.      Bagaimana karakteristik dan perkembangan pada masa anak akhir ?
3.      Apa saja aspek-aspek yang mempengaruhi perkembangan pada masa anak akhi






BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Psikologi Perkembangan
      Psikologi Perkembangan pada prinsipnya merupakan cabang dari psikologi. Psikologi Perkembangan terdiri dari dua kata Psikologi dan Perkembangan, Psikologi berasal dari kata Pscyche dan logos,[1]Pscyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Jadi, secara harfiah “psychology” berarti “ilmu jiwa”.
      Dapat dikatakan psyche ialah sesuatu yang abstrak, yang menjadi penggerak dan pengatur bagi segala tingkah laku seseorang, baik tingkah laku yang termasuk perbuatan, maupun tingkah laku yang termasuk penghayatan, tingkah laku perbuatan ialah tingkah laku yang dapat diamati secara langsung, misalnya berlari, berjala, bercakap-cakapdan tingkah laku motorik yang lain, sedangkan tingkah laku penghayatan ialah tingkah laku yang tidak dapat secara langsung dapat diamati, misalnya perasaan, pikiran, motivasi, reaksi berbagai kelenjar, dan sebagainya.[2]
      Maka Ilmu Jiwa dapat dikatakan sebagai ilmu yang membahas situasi batin manusia yang dapat menggerakkan tingkah laku manusia selama hidup didunia sampai pasca kematian.
      Menurut Elizabeth B. Hurlock istilah perkembangan berarti serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Seperti yang dikatakan oleh Van den Daele (III), perkembangan berarti perubahan secara kualitatif, ini berarti bahwa perkembangan bukan sekedar penambahan beberapa sentimeter pada tinggi badan seseorang atau peningkatan kemampuan seseorang, melainkan suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi komplek.[3]
      Menurut Aliah B. Purwakania, perkembangan menunjukkan adanya tahapan pola, prinsip, aspek dan faktor yang terlibat dalam perkembangan manusia.[4]
      Jadi Psikologi perkembangan adalah ilmu yang membahas tentang perubahan-perubahan progrsif situasi batin manusia yang dapat menggerakkan tingkah laku manusia selama hidup di dunia dan sampai pasca kematian.
      Menurut Siti Partini Suadirman dalam bukunya “Psikologi Perkembangan”: Psikologi perkembangan adalah cabang dari psikologi yang mempelajari prubahan pada individu, baik perubahan fungsi fisik, mental dan sosial yang terjadi sepanjang rentang kehidupan, semenjak konsepsi sampai akhir hayat atau meninggal dunia[5]

B.      Karakteristik dan perkembangan  Masa Kanak-Kanak Akhir
 Masa kanak-kanak akhir sering disebut sebagai masa sekolah atau masa sekolah dasar. Masa kanak-kanak akhir berjalan dari umur 6 atau 7 tahun sampai masuk ke masa pubertas dan masa remaja awal yang berkisar pada usia 11-13 tahun. Pada masa ini anak sudah matang bersekolah dan sudah siap masuk Madrasah Ibtidaiyah atau Sekolah Dasar.
Seorang anak dapat dikatakan matang untuk bersekolah apabila  anak telah mencapai kematangan (fisik, intelektual, moral, dan sosial). Matang secara fisik maksudnya, apabila anak telah menuruti secara jasmaniah tata sekolah. Misalnya, dapat duduk tenang, tidak makan didalam kelas, tidak bergurau dengan teman waktu diajar, dan lain sebagainya. Matang secara intelektual maksudnya, apabila anak telah sanggup menerima pelajaran secara sistematis, terus-menerus, dapat menyimpannya dan nantinya dapat memproduksi pelajaran tersebut. Matang secara moral adalah jika anak telah sanggup menerima pelajaran moral, misal pelajaran budi perkerti, etiket, serta telah sanggup untuk melaksanakannya. Telah juga ada rasa tanggungjawab untuk melaksanakan peraturan sekolah sebaik-baiknya. Matang secara sosial, maksudnya apabila anak telah sanggup untuk hidup menyesuaikan diri dengan masyarakat sekolah.
            Masa akhir kanak-kanak menurut psikologi islam adalah tahap tamyiz, fase ini anak mulai mampu membedakan yang baik dan buruk, yang benar dan yang salah.[6]



C.     Aspek-Aspek Perkembangan anak masa akhir
1.      Perkembangan Fisik
a. Tinggi dan Berat Badan
Kenaikan tinggi per-tahun adalah 2 sampai 3 inci. Rata-rata anak perempuan usia sebelas tahun sedikit lebih tinggi dari anak laki-laki.
b.Berat
Kenaikan berat lebih bervariasi, rata-rata berat anak perempuan juga sedikit lebih berat dari anak laki-laki
c.Perbandingan tubuh
Penampilan pada awal masa ini masih menunjukkan ukuran kepala yang lebih besar dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya. Namun kemudian, beberapa perbandingan wajah yang kurang baik menghilang dengan bertambah besarnya mulut dan rahang. Dahi melebar dan merata, bibir semakin berisi, hidung menjadi lebih besar dan lebih berbentuk.
Badan memanjang dan lebih langsing, leher menjadi lebih panjang, dada melebar, perut tidak lagi buncit, lengan dan tungkai memanjang, serta tangan dan kaki lambat laun  membesar.
d. Postur tubuh
Perbedaan dalam postur tubuh tidak lagi terlalu tampak seperti pada usia sebelumnya. Disamping itu, anak pada usia ini kurang memberi perhatian pada penampilan dan memiliki kecenderungan untuk berpakaian seperti teman-teman tanpa memperdulikan pantas atau tidaknya dengan postur tubuh mereka
e.Tulang dan Otot
Pada masa ini, jaringan lemak berkembang lebih cepat daripada jaringan otot yang perkembangannya baru mulai melejit pada awal pubertas.
f.Gigi
Pada permulaan pubertas umumnya seorang anak sudah mempunyai dua puluh dua gigi tetap, keempat gigi terakhir muncul pada usia remaja.
2.      Perkembangan Kognitif
Seiring dengan masuknya anak ke sekolah dasar, maka kemampuan kognitifnya turut mengalamai perkembangan yang pesat. Karena dengan masuk sekolah, berarti dunia dan minat anak bertambah luas, dan dengan meluasnya minat maka bertambah pula pengertian tentang manusia dan objek-objek yang sebelumnya kurang berarti bagi anak.
Pada usia ini anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif (membaca, menulis, dan berhitung).
Dengan keadaan normal, pikiran anak usia sekolah berkembang secara berangsur-angsur. Kalau pada masa sebelumnya daya pikir anak masih bersifat imajinatif dan egosentris, maka pada usia sekolah dasar ini daya pikir anak berpikir ke arah daya pikir konkrit, rasional, dan obyektif.Kemampuan berfikir ditandai dengan adanya aktivitas-aktivitas mental seperti mengingat, memahami dan mampu memecahkan masalah. Anak sudah lebih mampu berfikir, belajar, mengingat, dan berkomunikasi, karena proses kognitifnya tidak lagi egosentrisme, dan lebih logis.[7]
Egosentrisme artinya, anak belum mampu membedakan antara perbuatan-perbuatan dan objek-objek yang secara langsung dialami dengan perbuatan-perbuatan dan objek-objek yang hanya ada dalam pikirannya. Misalnya, ketika kepada anak diberikan soal, ia tidak akan mulai dari sudut objeknya, melainkan ia akan mulai dari dirinya sendiri. Egosentrisme pada anak terlihat dari ketidakmampuan anak untuk melihat pikiran dan pengalaman sebagai kedua gejala yang masing-masing berdiri sendiri.[8]
            Ditinjau dari perkembangan kognitif Jean Piaget, anak sekolah dasar memasuki tahap operasi kongkret dan berpikir. Suatu masa dimana konsep yang pada awal masa kanak-kanak merupakan konsep yang samar-samar dan tidak jelas sekarang menjadi konkret dan tertentu. Tahap operasi kongkret tetap ditandai dengan adanya sistem operasi berdasarkan apa-apa yang kelihatan nyata/kongkret. Anak masih menerapkan logika berpikir pada barang-barang yang kongkret, belum bersifat abstrak apalagi hipotesis. Anak masih kesulitan untuk memecahkan persoalan yang mempunyai banyak variabel. Oleh karena itu, meskipun intelegensi pada tahap ini sudah sangat maju, namun cara berpikirnya masih terbatas yakni berdasarkan sesuatu yang kongkret.
2.      Perkembangan Emosi
            Emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu, termasuk pula perilaku belajar. Emosi yang positif, seperti perasaan senang, bergairah, bersemangat atau rasa ingin tahu akan mempengaruhi individu untuk konsentrasi terhadap aktivitas belajar. Sebaliknya, jika emosi negatif seperti perasaan tidak senang, kecewa, tidak bergairah, maka proses belajar akan mengalami hambatan.
            Anak usia SD sudah menyadari bahwa ia tidak dapat menyatakan dorongan emosinya begitu saja tanpa mempertimbangkan lingkungannya. Ia mulai belajar mengungkapkan perasaannya dalam perilaku yang dapat diterima secara sosial. Penumbuhan perasaan ini tergantung dari bagaimana sikap orang tua mendisiplinkan anak. Di samping itu, melalui permainan dan olahraga dimungkinkan anak mengeluarkan emosinya secara wajar.
            Menginjak usia sekolah, anak mulai menyadari bahwa pengungkapan emosi secara kasar tidaklah diterima di masyarakat. Oleh karena itu, dia mulai belajar mengendalikan dan mengontrol ekspresi emosinya. Kemampuan mengontrol emosi diperoleh dari meniru dan latihan. Dalam proses peniruan, kemampuan orang tua dalam mengendalikan emosinya sangatlah berpengaruh. Apabila anak berkembang dalam lingkungan keluarga yang emosionalnya stabil, maka perkembangan emosi anak cenderung stabil. Emosi-emosi yang secara umum dialami pada tahap perkembangan usia sekolah ini adalah marah, takut, cemburu, iri hati, kasih sayang, rasa ingin tahu dan kegembiraan. [9]
3.      Perkembangan Bahasa
Selama masa akhir anak-anak, perkembangan bahasa terus berlanjut. Perbendaharaan kosa kata anak meningkat dan cara anak-anak menggunakan kata dan kalimat bertambah kompleks serta lebih menyerupai bahasa orang dewasa. Dari berbagai pelajaran yang diberikan disekolah, bacaan, pembicaraan dengan anak-anak lain, serta melalui radio dan televisi, anak-anak menambah perbendaharaan kosa kata yang ia pergunakan dalam percakapan dan tulisan.
Dengan dikuasainya ketrampilan membaca dan berkomunikasi dengan orang lain, anak sudah gemar membaca atau mendengarkan cerita yang bersifat kritis. Pada masa ini, karena dibarengi dengan taraf berpikir yang sudah maju maka dia banyak menanyakan soal waktu dan sebab akibat.
Di samping peningkatan dalam jumlah perbendaharaan kosa kata, perkembangan bahasa anak usia sekolah juga terlihat dalam cara anak berpikir tentang kata-kata. Peningkatan kemampuan anak sekolah dasar dalam menganalisis kata-kata, menolong mereka memahami kata-kata yang tidak berkaitan langsung dengan pengalaman-pengalaman pribadinya. Ini memungkinkan anak menambah kosa kata mereka. Misalnya, “batu-batuan berharga” dapat dipahami melalui pemahaman tentang ciri-ciri umum “berlian” atau “zamrud”
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu sebagai berikut:
a.       Proses jadi matang dalam hal organ-organ suara/bicara sudah berfungsi untuk berkata-kata.
b.      Proses belajar, maksudnya bahwa anak telah matang untuk berbicara, lalu mempelajari bahasa orang lain dengan jalan mengimitasi atau meniru ucapan atau kata-kata yang didengarnya.[10]
Kedua proses tersebut berlangsung sejak masa bayi dan kanak-kanak, sehingga pada saat masuk SD anak sudah sampai pada tingkat dapat membuat kalimat yang mendekati sempurna, dapat membuat kalimat majemuk, dan dapt menyusun dan mengajukan pertanyaan.
Kosa Kata Khusus pada Usia Anak-anak Akhir:
a.       Kosa kata etiket : ucapan tolong, terimakasih, maaf sudah mulai digunakan dengan baik.
b.      Kosa kata warna: anak mulai belajar nama semua warna yang umum dan yang khusus.
c.       Kosa kata rahasia: anak mempelajari kosa kata rahasia untuk berkomunikasi dengan sahabatnya. Dapat berbentuk tulisam kode-kode yang dibentuk dengan lambang, mengganti kosa kata asli dengan tambahan huruf dll. Sebagian besar anak mulai mempelajari kosa kata rahasia ini pada saat memasuki kelas 3, dan penggunaan kata-kata ini mencapai puncaknya sebelum memasuki masa puber.
d.      Kosa kata Uang:  anak mulai mengerti nilai uang logam dan uang kertas.
e.       Kosa kata waktu: anak yang lebih besar mulai mampu menggunakan kosa kata waktu.
f.       Kata-kata popular atau makian: umumnya anak menggunakannya agar merasa “besar”.
g.      Kosa kata bilangan: anak mulai belajar arti dan nama-nama bilangan.
Dengan demikian cakrawala anak-anak, mereka menemukan bahwa berbicara merupakan sarana penting untuk memperoleh tempat di dalam kelompok. Dalam hal ini yang paling penting adalah bahwa ia mampu mengerti apa yang dikatakan orang lain. Kalau anak tidak dapat mengerti apa yang dikatakan orang lain, tidak saja ia tidak dapat berkomunikasi, tetapi lebih parah lagi, ia cenderung mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang dibicarakan oleh teman-teman sehingga ia tidak diterima dalam kelompok.












BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.        Pengertian Psikologi Perkembangan
Psikologi Perkembangan pada prinsipnya merupakan cabang dari psikologi. Psikologi Perkembangan terdiri dari dua kata Psikologi dan Perkembangan, Psikologi berasal dari kata Pscyche dan logos,Pscyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Jadi, secara harfiah “psychology” berarti “ilmu jiwa.
2.      Karakteristik dan perkembangan  Masa Kanak-Kanak Akhir
Masa kanak-kanak akhir sering disebut sebagai masa sekolah atau masa sekolah dasar. Masa kanak-kanak akhir berjalan dari umur 6 atau 7 tahun sampai masuk ke masa pubertas dan masa remaja awal yang berkisar pada usia 11-13 tahun. Pada masa ini anak sudah matang bersekolah dan sudah siap masuk Madrasah Ibtidaiyah atau Sekolah Dasar.
3.      Aspek-Aspek Perkembangan anak masa akhir
a.      Perkembangan Fisik
1.   Tinggi dan Berat Badan
2.   Berat
3.   Perbandingan tubuh
4.   Postur tubuh
5.   Tulang dan Otot
6.   Gigi
b.      Perkembangan Kognitif
Pada usia ini anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif (membaca, menulis, dan berhitung).
c.       Perkembangan Emosi
 Emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu, termasuk pula perilaku belajar. Emosi yang positif, seperti perasaan senang, bergairah, bersemangat atau rasa ingin tahu akan mempengaruhi individu untuk konsentrasi terhadap aktivitas belajar. Sebaliknya, jika emosi negatif seperti perasaan tidak senang, kecewa, tidak bergairah, maka proses belajar akan mengalami hambatan.
d.      Perkembangan Bahasa
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu sebagai berikut:
a.       Proses jadi matang dalam hal organ-organ suara/bicara sudah berfungsi untuk berkata-kata.
b.      Proses belajar, maksudnya bahwa anak telah matang untuk berbicara, lalu mempelajari bahasa orang lain dengan jalan mengimitasi atau meniru ucapan atau kata-kata yang didengarnya.



















DAFTAR PUSTAKA
Desmita. Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006.
Rochmah, Elfi Yuliani. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Teras, 2005.
Purwakania,Aliyah B. Psikologi Perkembangan Islami. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006.
Yusuf L.N, Syamsu. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008.
Hidayati, Wiji dkk. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Teras, 2008.
Rumini, Sri dkk. Psikologi Umum. Yogyakarta: FIK IKIP, 1998.
Suadirman, Siti Partini. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, 2006.




[1]Sri Rumini, dkk, Psikologi Umum, (Yogyakarta: FIK IKIP, 1998), hlm. 1
[2]Wiji Hidayati, dkk, Psikologi Perkembangan, (Yogyakarta: Teras, 2008), hlm. 4.
[3]Elizabeth, B. Hurlock, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, (Jakarta: Erlangga, 2004), edisi kelima, hlm. 2.
[4]Aliyah B. Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangan Islami, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 13.
[5]Siti Partini Suadirman, Psikologi Perkembangan, (Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, 2006), hlm. 1.
[6]Wiji Hidayati, dkk, Psikologi Perkembangan, (Yogyakarta: Teras, 2008), hlm. 130.
[8]Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung: PT Remaja Rodakarya, 2005), hlm. 158

[9]Syamsu Yusuf L.N, Psikologi Perkembangan Anak & Remaja, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 181.
[10]Elfi Yuliani Rochmah, Psikologi Perkembangan, (Yogyakarta: Teras, 2005), hlm. 169.

Tidak ada komentar: