Minggu, 26 Maret 2017

Qurban menurut Imam Syafi'i



QURBAN DAN IMAM SYAFI’I

A.    Qurban
1.      Pengertian Qurban
           Qurban menurut bahasa berasal dari kata qaraba yang berarti dekat. Sedangkan menurut syari’at qurban berarti hewan yang di sembelih dengan niat beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan syarat – syarat dan waktu tertentu.
2.      Hukum Berqurban
           Berqurban merupakan ibadah yang si syari’atkan bagi keluarga muslim yang mampu. Firman Allah SWT :
a.       Qs. Al – Kautsar : 1 – 2
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ(2) 
      Artinya :  Sesungguhnya kami telah memberi engkau (Ya Muhammad)                         akan kebajikan yang banyak. Sebab itu, sembahyanglah                               pada    engkau pada hari raya haji karena Allah dan                             sembelihlah     qurbqnmu. (Qs. Al – Kautsar : 1 – 2).
b.      Qs. Al – hajj : 34
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ
Artinya :” Dan tiap – tiap kami jadikan tempat berqurban ( supaya ia              berqurban ), agar mereka mengigat nam Allah atas apa                              yang telah di rizqikan kepada mereka atas binatang                  ternak”. ( Qs. Al – hajj : 34 ).
( Ahmad Alfan, Dkk, 2014 : 79 – 80 )
     Dan ayat tersebut, ulama’ Syafi’i berpendapat bahwa berqurban hukunya adalah sunah yang di tekankan atas dasar kifayah. Maka apabila salah seorang dari ahli rumah telah mengerjakan qurban, maka cukuplah seluruh mereka, dan tidak wajib suatu qurban kecuali ada nadzar. ( Terjemah Fatul Qarib Jilid 2 Oleh Menara Kudus, 1983 : 205).
3.      Syarat – Syarat Wajib Qurban
           Imam Syafi’i berpendapat bahwa sembelihan seseorang menjadi sah bila orang yang menyembelih memenuhi syarat – syarat sebagi berikut :
a.      Muslim
     Orang kafir tidak di wajibkan atau tidak di sunahkan berqurban, karena qurban adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah. Oleh karena itu qurban hanya di wajibkan bagi orang yang muslim.
b.      Orang Yang Mukim
     Orang musafir tidak wajib berqurban, syarat ini di kenakan bagi yang menyatakan bahwa qurban itu wajib. Karena qurban tidak di ambil dari seluruh harta atau di lakukan setiap saat, namun di lakukan dengan hewan tertentu dan waktu tertentu. Sedangkan musafir tidak berada di setiap tempat dan tidak berada pada pelaksanaan qurban. Seandainya kita mewajibkan kepada musafir, maka ia harus membawa hewan qurbanya pada saat ia bersafar. Dan tentu ini adalah suatu kesulitan, atau bisa jadi dia harus meninggalkan safar sehingga jadilah ada dampak jelek untuk dirinya.
c.       Kaya
     Ulama’ Syafi’iyah menyatakan bahwa qurban itu di sunahkan bagi yang mampu, yaitu yang memiliki harta untuk berqurban lebih dari kebutuhanya di hari idul adha, malamnya selama tiga hari, hari Tassyriq juga malam – malamnya.
d.      Baligh
     Qurban di wajibkan atau di sunahkan bagi orang yang sudah baligh ( dewasa ), maka tidak wajib bagi anak kecil yang belum mencapai tingkat baligh. ( https : // Rumaysha. Com / 2799 – Syarat – berqurban. Html ).
4.      Ketentuan Hewan Qurban
           Hewan yang sah di jadika sebagai hewan qurban adalah hewan ternak, sebagimana Allah telah berfirman :
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ
Artinya : “Dan bagi tiap – tiap umat telah kami syari’atkan penyembelihan ( qurban ) supaya ia menyebut nama Allah tehadap binatang ternak yag telah di rizqikan Allah kepada mereka”. ( Qs. Al – hajj : 34 )
                        Hewan yang dimaksud adalah : unta, sapi, kerbau dan kambing atau domba. Adapun hewan – hewan tersebut dapat di jadikan hewan qurban dengan syarat telah cukup umur dan tidak cacat, misalnya pincang, sangat kurus atau sakit. Adapun ketentuan cukup umur tersenut adalah sebagi berikut :
a.      Domba
      Umur domba sekurang – kurangnya adalah berumur satu tahun atau telah tanggal giginya. Jadi bagi domba yang kurang dari satu tahun atau belum tanggal giginya tidak sah untuk qurban.
b.      Kambing
      Kambing sekurang – kurangnya juga berumur satu tahun, sama halnya dengan domba begitu juga harus sudah tanggal giginya. Jadi tidak sah bagi kambing yang belum berumur satu tahun.
c.       Unta
      Hewan unta yang sah di gunakan untuk berqurban adalah minimla berumur lima tahun. Jadi tidak sah bagi unta yang belum berumur lima tahun.
d.      Sapi
      Sapi atu kerbau yang sah di gunakan untuk qurban sekurang – kurangnya berumur dua tahun. Jadi tidak sah bagi sapi atau kerbau yang kurang dari dua tahun.
      Hewan yang sah untuk di qurbankan adalah hewan yang tidak cacat baik karena pincang, sangat kurus, putus telinganya, putus ekornya, atau karena sakit. Seekor kambing atau domba hanya untuk qurban satu orang. Sedangkan seekor unta, sapi atau kerbau masing – masing untuk tujuh orang. Sabda Rasulullah Saw :
Artinya : “ Kami telah menyembelih qurban bersama – sama Rasulullah Saw. Pada tahun hudaibiyah, seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang”. ( HR. Muslim ).     
B.     Imam Syafi’i
1.      Biografi Imam Syafi’i
           Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’I bin Sa’id bin Abu Yazid bin Hakim bin Muthalib bin Abdul Manaf. Dari pihak ayah beliau berjumpa dengan keturunan nabi Muhammad Saw. Pada Abdul Manaf yang termasuk suku Quraisy dari kelompok “ Al – azd”.
           Beliau di lahirkan di kota ghazzah, wilayah palestina di tepi laut tengah pada tahun 150 H / 767 M. Yang bertepatan dengan malam wafatnya imam Abu Hanifah dan beliau wafat pada tahun 240 H / 822 M di mesir. Sejak kecil ayahnya meninggal dunia, kemudian dalam usianya yang masih dua tahun ( tahun 170 H ) ibunya membawa kembali ke kota Makkah dan menetap selama 20 tahun dan seterusnya pindah ke Madinah.
           Beliau termasuk salah seorang ulama’ yang senang melakukan perlawanan di berbagai daerah dan pernah tinggal di Hijaz dan bermukim di Badiyyah, Yaman,Mesir dan bahkan sering sekali di Irak. Selama di Makkah bersama ibunya, beliau dalam keadaan miskin, sekalipun demikian cita–citanya untuk menuntut ilmu pengetahuan agama sangat kuat, dengan di perkuat ibunya yang selalu mendorong untuk mewujudkan cita – citanya khusus dalam bidang ilmu keagamaan.
           Masa kecilnya di Makkah, beliau Imam Syafi’I mempelajari khusus ilmu agama islam, lalu pada usia muda, situasi perkembagan ilmu pengetahuan dan ilmu keagamaan sedang berada di puncak kejayaan, khususnya pada masa khalifah Harun Al – Rasyid ( 170 – 193 H ) sekalipun ilmu pengetahuan ke islaman tetap di Makkah, Madinah, Kufah ( Irak ) Syam ( Damsyik ) dan Mesir.
           Dari factor lingkungan sperti itulah imam Syafi’i mempunyai kesempatan luar untuk dapat menuntut ilmu pengetahuan kegamaan islam sebanyak – banyaknya dan semaksimal mungkin, sehingga dirinya mampu mendirikan kelompok pemikir hokum islam dalam bentuk madzhab yang di kenal dengan madzhab Syafi’I yang perkembanganya sampai ke Indonesia.
           Perlu di ketahui bahwa pada awalnya, beliau Imam Syafi’I menjadi pengikut aliran madzhab Maliky dan aliran Al – hadist. Tetapi dari pengembaraan – pengembaraan yang beliau lakukan dengan di lengkapi pengalaman di berbagai bidang, Nampak memberikan pengaruh kuat pada beliau untuk mendirikan suatu aliaran madzhab yang khusus. Dimana pertama – tama beliau memilih madzhab Al – iraqiy yang lazimnya disebut dengan madzhab qadim, akan tetapi setelah beliau menetap di mesir beliau mengajarkan Al – mishriy kepada para pengikutnya dalam mengamalkan pendapat barunya yang lazim di sebut madzhab jadid. (Sirajuddin Abbas, 2006)
2.      Guru – Guru Imam Syafi’i
           Imam Syafi’I mempelajari ilmu Tafsir, Fiqih, dan Hadist kepada guru – guru yang banyak, yang negerinya antara yang satu dengan yang lainya berjauhan. Diantara guru – guru Imam Syafi’i adalah :
a.      Di Makkah
1.)    Muslim bin Khalid Az – Zanji
2.)    Ismail bin Qusthantein
3.)    Sofyan bin Ujainah
4.)    Sa’ad bin Abi Salim Al – Qaddah
5.)    Daud Abdurrahman Al – Athar
6.)    Abdul Hamid bin Abdul Aziz
b.      Di Madinah
1.)    Imam Malik bin Anas ( pembangun madzhab Maliki )
2.)    Ibrahim Ibnu Sa’ad Al – Anshari
3.)    Abdul Aziz bin Muhammad Ad – Dururdi
4.)    Ibrahim bin Abi Yahya Al – Asami
5.)    Muhammad bun Sa’id
6.)    Abdullah bin Nafi’
( Sirajuddin Abbas, 2006 : 153 – 154 )
3.      Karya – Karya Imam Syafi’i
           Abu Abdillah Muhammad bin Idris As Syafi’I setelah ilmunya tinggi dan fahamnya tajam, dan setelah sampai ke derajad mujtahid mutlaq (mujtahid penuh) timbul lah inspirasinya untuk bertaqwa sendiri, yakni mengeluarkan hukum – hukum syari’at dari Qur’an dan Hadist sesuai dengan ijtihadnya sendiri, terlepas dari madzhab gurunya yaitu imam Maliki dan imam Hambali.
           Hal ini terjadi di Baghdad ( Iraq ) pada tahun 198 H. Yaitu sesudah usia beliau  48 tahun dan sudah mulai masa belajar selama kurang lebih empat puluh tahun, yang mana fatwa – fatwa beliau ketika tinggal di Baghdad itu di namai dengan Qoul Qadim.
           Sedangkan fatwa – fatwa beliau setelah pindah ke mesir itu di namakan dengan qoul jadid. Sebagaimana di maklumi dalam sejarahnya pindah ke mesir pada tahun 198 H. Di mesir beliau tinggal di rumah salah seorang sahabat, beliau bernama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam dan mengajar di masjid Umar bin Ash yang tidak berapa jauh dari beliau tinggal.
           Selama berada di mesir selama lima tahun beliau berfatwa dan mengembagkan madzhabnya di hadapan umum dengan lisan dan tulisan dan mendapat sambutan sangat hangat dari dunia islam saat itu.
           Kitab – kitab yang di karang beliau banyak sekali, tidak terhitung, karena banyak kitab – kitab itu yang di salin oleh murid – murid beliau dan di bawa ke negeri lain untuk di kembangkan.
           Ketahuilah bahwa ketika belum ada percetakan, semua kitab di tulis dengan tangan dan di salin dari satu naskah ke naskah yang lain.
           Seperti kitab Ar-Risalah, yang mana sebelum beliau oindah ke mesir kitab ini mengandung ajaran qaul qadim, setelah beliau pindah ke mesir barulah terbit kitab Ar-Risalah yang mengandung ajaran di qaul jadid. Dalam perkembangan kitab-kitab yang mengandung ajaran qaul jadid akan tetapi semua ajaran dalam kitab-kitab qaul qadim telah masuk melengkapi ajaran-ajaran dalam kitab qaul jadid. Kitab-kitab yang dikarang oleh Imam Syafi’i ketika di mesir diantaranya :
a.       Ar – Risalah
b.      Kitab Ahkamil Qur’an
c.       Kitab Ikhtilaful Hadist
d.      Kitab Ibthalul Istihsan
e.       Kitab Jima’ul Ilmi
f.       Kitab Al – Qiyas
g.      Kitab Al – Um dalam Ilmu Fiqih
h.      Kitab Al – Musnad
i.        Kitab Mukhtasar Al – Muzani
( Sirajuddin Abbas, 2006 : 174 – 179)




BAB III
CARA BERQURBAN MENURUT IMAM SYAFI’I

A.    Cara Penyembelihan Hewan Qurban Menurut Imam Syafi’i
     Ketahuilah bahwasanya cara – cara penyembelihan qurban menurut imam Syafi’I mempunyai beberapa cara yang harus di lakukan ole penyembelih diantaranya sebgai berikut :
1.      Membaca Basmalah
           Bagi orang yang akan menyembelih hewan qurban di syaratkan harus membaca basmalah terlebih dahulu. Adapun yang lebih sempurna adalah membaca Bismillahirrahmanirrahim. Adapun apabila tidak membaca basmalah maka hukumnya tetap halal.
2.      Membaca Shalawat Nabi Saw
           Bagi orang yang akan menyembelih hewan qurban disyaratkan membaca shalawat nabi Muhammad Saw, dan di makruhkan mengumpulkan antara nama Allah dan nama Rasulnya.
3.      Menghadap kiblat
           Bagi  orang yang mnyebelih kurban disyaratkan untuk mrnghdap kiblat, artinya si penyembelih menhhadapkan sembelihannya kea rah kiblat dan dia sendiri juga menghadap kiblat.
4.      Membaca takbir
           Sebelum membaca basmalah atau sesudahnya sebnyak tiga kali sebagaimana yang telah dikatakan oleh imam mawardi.
5.      Berdoa dengan meminta agar kurbannya diterima oleh Alloh.
           Si penyembelih hendaknya membaca doa “ Wahai Alloh, kurban ini adalah dari engkau dan untuk engkau,maka kabulkanlah (terimalah) kurban ini artinya kurban ini adalah nikmat dari engkau untukku, dan akau mendekatkan kepadamu dengan kurban ini, maka semoga Engkau terima kurban ini.
B.          Hukum Mentasharufkan Hewan Kurban menurut Imam Syafi’i
                 Ada beberapa hukum mentasharufkan hewan qurban mrnurut pendapat imam Syafi’i yang mengandung beberapa hukum yang harus di ketahui diantaranya :
1.      Tidak boleh dalam arti haram bagi Mudhhahhi menjual sedikit saja dari qurbanya, artinya menjual dagingnya, bulunya, dan kulitnya, dan juga tidak boleh menjadikan bulunya sebagai upah kepada pihak pemotong meskipun qurban itu berstatus sunnah.
2.      Boleh memakan daging qurban yang statusnya di sunahkan, yaitu satu pertiga menurut imam Syafi’i.
3.      Wajib bagi Mudhahhi membagikan daging qurban yang di sunahkan kepada para fakir dan miskin. Adapun yang lebih utama mensadaqahkan seluruh qurbanya kecuali sesuap atau beberapa suap di mana Mudhahhi berharap berkah lantaran memakannya, karena sesungguhnya Mudhahhi memang di sunahkan untuk mengambil berkah tersebut.
C.    Hikmah Berqurban Menurut Imam Syafi’i
1.      Bagi Orang yang Berqurban
a.       Menambah kecintaan kepada Allah
b.      Menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah
c.       Menunjukkan syukur kepada Allah
d.      Mewujudkan tolong menolong antar sesama
2.      Bagi Penerima Daging Qurban
1.      Menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah
2.      Bertambah semangat dalam hidupnya
3.         Bagi Kepentingan Umum
1.    Memperkokoh tali persaudaraan, karena ibadah qurban melibatkan semua lapisan masyarakat.
2.    Meningkatkan dan menumbuhkan kesadaran beragama baik bagi orang yang mampu maupun kurang mampu.











BAB IV
PENUTUP
A.      Kesimpulan
     Berdasarka uraian pembahasan pada bab – bab sebelumnya, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1.      Cara Penyembelihan Qurban Menurut Imam Syafi’i
a.       Membaca basmalah
b.      Membaca shalawat nabi Saw
c.       Menghadap kiblat
d.      Membaca takbir
e.       Berdo’a dengan meminta agar qurbannya dapat di terima Allah
2.      Hukum Mentasharufkan Hewan Qurban menurut Imam Syafi’i
a.       Boleh memakan qurban yang statusnya di sunahkan
b.      Tidak boleh bagi mudhahhi menjual sedikit saja dari qurbannya
c.       Wajib bagi mudhahhi memberikan daging qurban yang di sunahkan
3.      Hikmah Berqurban
a.       Bagi yang berqurban
1.)    Menambah kecintaan kepada Allah Swt.
2.)    Menambah keimanan kepada Allah Swt.
3.)    Menunjukkan rasa syukur kepada Allah Swt.
4.)    Mewujudkan tolong menolong antar sesama.
b.      Bagi penerima daging qurban
1.)    Menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt.
2.)    Bertambah semangat dalam hidupnya.
c.       Bagi kepentingan umum
1.)    Memperkokoh tali persaudaraan.
2.)    Menumbuhkan dan meningkatka kesadaran beragama.
B.       Saran – saran
1.      Hendaknya masyarakat islam ketika berqurban memenuhi adab, syarat dan ketetapan yang sesuai dengan syari’at islam.
2.      Hendaknya masyarakat islam ketika berqurban dengan niat yang iklhas, karena bagi Allah darah dan daging qurban itu tidak ada derajatnya di sisi Allah hanya keiklhasan yang di terima oleh Allah.
3.      Hendaknya bagi yang mampu untuk berqurban dengan segera, karena berqurban terdapat manfaat yang sangat banyak.

DAFTAR PUSTAKA
Abu Amar. 1983. Fathul Qarib Terjemahan. Kudus : Menara kudus
Alfan, A. 2014. Fiqih Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013 kelas X. Jakarta :         Kementerian agama
Abbas, Sirajuddin. 2006. Sejarah Keagungan Madzhab Syafi’i. Jakarta : Cv.           Pustaka Tarbiyah

Tidak ada komentar: