Senin, 16 Maret 2015

Pembelajaran IPS



BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
Dalam kita menjadi guru kita harus memahami definisi pembelajaran karena oleh beberapa ahli pembelajaran sendiri memeiliki arti yang sangat luas, pembelajaran tidak dapat didefinisikan hanya sebagai sebuah proses pemindahan pengetahuan dari seorang guru terhadap peserta didik. Akan tetapi pembelajaran harus dipahami lebih luas dan lebih menyeluruh.
Selain memahami definisi pembelajaran seorang guru harus mengetahui prinsip-prinsip dasar suatu disiplin ilmu agar guru tersebut mampu mengajarkan dan menyampaikan maksud dan tujuan pembelajaran tersebut. Sehingga seorang guru mampu membimbing murid tersebut menguasai dan memahami suatu disiplin ilmu sesuai dengan tujuan yang diharapkan masyarakat, agama dan Negara.
Dalam pembelajaran IPS di MI sudah seyogyanya seorang guru memahami prinsip-prinsip dasar dalam melakukan pembelajaran IPS. Prinsip-prinsip ini merupakan satu kesatuan guna mencapai tujuan pembelajaran IPS bagi seluruh peserta didik. Prinsip dasar pembelajaran sebagai berikut :
1.      Intregrated (terpadu)
2.      Interaksi
3.      Kesinambungan dan perubahan
4.      Kooperatif
5.      Kontekstual
6.      Problem solving
7.      Inkuiri
8.      Keterampilan sosial
B.     LATAR BELAKANG MASALAH
1.      Apa pengertian pembelajaran IPS ?
2.      Apa tujuan dasar pembelajaran IPS di MI ?
3.      Apa pengertian prinsip-prinsip dasar pembelajaran IPS di MI ?
C.    TUJUAN
1.      Mengetahuai hakekat pembelajaran IPS.
2.      Mengetahui tujuan pembelajaran IPS di MI
3.      Mengetahui prinsip-prinsip dasar pembelajaran IPS di MI


BAB II
ISI
A.    PENGERTIAN PEMBELAJARAN IPS
Pembelajaran merupakan suatu istilah yang memiliki pengertian yang sangat luas dalam dunia pendidikan. Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu sistem atau sebagai suatu proses membelajarkan peserta didik yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan dan dievaluasi secara sistematis agar peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
Pembelajaran dipandang sebagai suatu sistem, berarti pembelajaran berarti sebuah komponen yang teroganisisr antara lain tujuan pembelajaran, materi pembalajan, strategi dan model pembelajaran, media pembelajaran atau alat peraga, pengorganisasian kelas, evaluasi pembelajaran, dan tindak lanjut pembelajaran
Menurut Hamalik Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi (siswa dan guru), material (buku, papan tulis, kapur dan alat belajar), fasilitas (ruang, kelas audio visual), dan proses yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Proses tindakan belajar pada dasarnya adalah bersifat internal, namun proses itu dipengaruhi oleh factor-faktor eksternal. Misalnya, perhatian peserta didik dalam pembelajaran dipengaruhi oleh rangsangan yang berasal dari luar.
Dalam pembelajaran pendidik harus benar-benar mampu menarik perhatian peserta didik untuk mencurahkan seluruh energinya sehingga dapat melakukan aktivitas belajar secara optimal dan memperoleh hasil belajar seperti apa yang diharapkan
.Pembelajaran adalah seperangkat peristiwa (events) yang mempengaruhi peserta didik sedemikian rupa sehingga sehingga peserta didik itu memperoleh kemudahan dalam berinteraksi berikutnya dengan lingkungan (Briggs,1992)
Pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan peserta didik. Istilah pembelajaran lebih tepat digunakan karena ia menggambarkan upaya untuk membangkitkan prakarsa belajar seseorang. Di samping itu, ungkapan pembelajaran memiliki makna yang lebih dalam untuk mengungkapkan tujuan pendekatan pembelajaran dalam upaya membelajarkan peserta didik.[1]
Sedangkan IPS adalah suatu bahan kajian terpadu yang merupakan penyederhanaan, adaptasi, seleksi dan modifikasi diorganisasikan dari konsep-konsep ketrampilan-ketrampilan Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi, dan Ekonomi (Puskur, 2001: 9). Fakih Samlawi & Bunyamin Maftuh (1999: 1) menyatakan bahwa IPS merupakan mata pelajaran yang memadukan konsep-konsep dasar dari berbagai ilmu sosial disusun melalui pendidikan dan psikologis serta kelayakan dan kebermaknaannya bagi siswa dan kehidupannya.
IPS merupakana nama salah satu mata pelajaran di tingkat Sekolah Dasar. Istilah IPS di Sekolah Dasar merupakan nama mata pelajaran yang berdiri sendiri sebagai integrasi dari sejumlah konsep disiplin ilmu sosial, humaniora, sains bahkan berbagai isu dan masalah sosial kehidupan. Materi IPS untuk jenjang Sekolah Dasar tidak terlihat aspek disiplin ilmu karena yang lebih dipentingkan adalah dimensi pedagogic dan psikologis serta karakteristik kemampuan berpikir peserta didik yang bersifat holistic.[2]
Menurut Resnik dalam Martorrela (1991). Pembelajaran IPS adalah alih informasi pengetahuan dan keterampilan yang membantu peserta didik menempatkan diri dalam situasi yang membuatnya mampu melakukan konstruksi-konstruksi pemikirannya dalam situasi wajar, alami, dan mampu mengekpresikan dirinya secara tepat apa yang mereka rasakan dan mampu melaksanakannya.
Martoella (1987) mengatakan bahwa pembelajaran Pendidikan IPS lebih menekankan pada aspek “pendidikan” daripada “transfer konsep”, karena dalam pembelajaran pendidikan IPS peserta didik diharapkan memperoleh pemahaman terhadap sejumlah konsep dan mengembangkan serta melatih sikap, nilai, moral, dan keterampilannya berdasarkan konsep yang telah dimilikinya.
Dari beberapa uraian diatas dapat kita ketahui bahwa pembelajaran IPS adalah suatu sistem pendidikan yang terdiri dari berbagai faktor yang menyusun. Antara lain peserta didik, pendidik, media belajar, fasilitas belajar dan juga sumber belajar yang bertujuan membuat peserta didik menguasai dan memahami berbagai intregasi berbagai disiplin ilmu social. Seperti ekonomi, sejarah, sosial, geografi dan lain-lain. Selain ilmu sosial juga ilmu humaniora, sains bahkan berbagai isu dan masalah sosial kehidupan
Sehingga pembelajaran IPS di MI lebih mengutamakan mendidik peserta didik menjadi seseorang yang mampu menempatkan diri dalam situasi yang membuatnya mampu melakukan konstruksi-konstruksi pemikirannya dalam situasi wajar, alami, dan mampu mengekpresikan dirinya secara tepat apa yang mereka rasakan dan mampu melaksanakannya sesuai tingkat dan lingkungan dimana peserta didik tersebut berada.
B.     TUJUAN PEMBELAJARAN IPS di MI
Tujuan pembelajaran IPS di MI adalah untuk member bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan diri sesuai bakat, minat, kemampuan dan lingkunganya dalam bidang pembelajaran di MI.
Tujuan yang lebih spesifik bias ditelaan dibawah ini :
1.      Mengembangkan konsep-konsep dasar sosiologi geografi, ekonomi, sejarah, dan kewarganegaraan melalui pendekatan peadagogis dan psikologis.
2.      Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan sosial.
3.      Membangun komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
4.      Meningkatkan kemampuan bekerjasama dan kompetensi dalam masyarakat yang majemuk, baik secara nasional, maupun internasional.
C.     PRINSIP-PRINSIP DASAR PEMBELAJARAN IPS DI MI.
Prinsip adalah suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum maupun individual yang dijadikan oleh seseorang/ kelompok sebagai sebuah pedoman untuk berpikir atau bertindak.
Sebuah prinsip merupakan roh dari sebuah perkembangan ataupun perubahan, dan merupakan akumulasi dari pengalaman ataupun pemaknaan oleh sebuah obyek atau subyek tertentu
Sehingga sebagai pendidik kita harus mengetahui pedoman-pedoman dasar yang menuntun atau menunjukan kita kepada tujuan sebuah pembelajaran. Begitu pula pembelajaran IPS di MI, sebagai sebuah system yang memiliki sebuah tujuan yang ingin dicapai pembelajaran IPS di MI juga memiliki pedoman dasar yang harus dipahami oleh pendidik. Agar peserta didik yang menerima pembelajaran tersebut mampu memahami dan mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki sesuai dengan maksud dan tujuan pembelajaran tersebut dibuat.
Prinsip-prinsip atau pedoman dasar pembelajaran IPS di MI sebagaimana yang terdapat pada buku lapis PGMI antara lain Intregrated (terpadu), Interaksi, Kesinambungan dan perubahan, Kooperatif, Kontekstual, Problem solving, Inkuiri, Keterampilan sosial.
1.      Intregrated (terpadu)
Intregrated istilah ini mirip dengan istilah integrasi atau keterpaduan, dalam KBBI intregasi (n) adalah pembaharuan hingga menjadi kesatuan yang utuh dan bulat. Dalam konteks ini integrasi adalah satu kesatuan antar disiplin ilmu sosial yang saling terkait, dengan demikian dalam penyampaian materi pembelajaran IPS dilaksanakan dengan memadukan antar disiplin ilmu yang terkait.
Sehingga pembelajaran IPS dapat dilakukan berdasarkan topik yang terkait, misalnya kegiatan ekonomi penduduk dalam hal ini ditinjau dari persebaran dan kondisi fisis-geografis yang tercakup dalam disiplin geografi.
2.      INTERAKSI
Interaksi dalam KBBI berarti hubungan, dan dalam kontek ini adalah hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok. Timbulnya interaksi disebabkan oleh dorongan saling membutuhkan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, baik itu kepuasan, ingin diperhatikan, dan ingin mendapat kasih sayang.
Interaksi merupakan kegiatan yang menjadi kodrat seumur hidup dari manusia sebagai makhluk sosial. Sejak lahir manusia sudah memiliki naluri untuk berinteraksi dengan makhluk hidup lain. Dengan bertambahnya umur dan juga bertambah luasnya pergaulan maka interaksi yang terjadi semakin luas. Sehingga dalam konteks ini pembelajara IPS menjadi dasar yang mendidik peserta didik agar memiliki pengetahuan tentang bentuk interaksi secara umum dan juga medidik peserta didik agar mampu dan terbiasa berinteraksi dengan sesama makhluk hidup lain.
Karena manusia sebagai makhluk sosial ingin hidup berkelompok dan kosekuensinya saling membutuhkan, saling bekerjasama dalam melakukan pekerjaan, saling kerjasama dalam pemecahan masalah sosial dan untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama. Lebih dari itu dalam bekerjasama dituntut untuk saling kompromi atas keinginan pribadi demi kepentingan kelompok. Sehingga dalam pembelajaran IPS pendidik diharapkan mampu menanamkan sifat dasar ini melalui pembelajaran yang ada.
3.      KESINAMBUNGAN DAN PERUBAHAN
Dalam kehidupan bermasyarakat manusia akan selalu terikat dengan adat dan tradisi yang sudah ada dan diwariskan dari generasi sebelumnya. Pewarisan ini akan berlangsung dari satu generasi ke generasi yang selanjutnya. Sebagai contoh kesinambungan kehidupan itu terjadi karena lembaga perkawinan.
Seperti halnya uraian diatas pembelajaran IPS juga harus bersinambung karena pada dasarnya materi dan pemahaman peserta didik harus sambung-menyambung, sehingga peserta didik lebih mudah dan cepat memahami materi yang disampaikan. Sebagai contoh materi sejarah ketika tidak berkesinambungan akan membuat peserta didik kebingungan memahami alur dan hubungan sebab akibat peristiwa sejarah tertentu.
Selain harus bersinambung pembelajaran IPS juga harus mengikuti perubahan. Hal ini karena manusia sebagai obyek utama pembelajaran IPS terus mengalami perubahan sesuai dengan berjalanya waktu serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak ada individu, kelompok atau masyarakat yang berhenti berproses. Misalnya apabila kebudayaan suatu masyarakat berubah, baik besar maupun kecil maupun kecil maka masyarakar yang mempunyai kebudayaan tersebut juga akan mengalami perubahan sesuai dengan perubahan yang terjadi. Perubahan sosial ini bias terjadi karena politik, ekonomi, ataupun kemajuan teknologi dengan skala yang berbeda-beda tiap masyarakat di daerah satu dengan daerah lainya. Sehingga dalam mengajarkan IPS pendidik harus mengikuti dan melacak perubahan-perubahan yang terjadi sehingga para peserta didik mampu mengambil nilai-nilai yang terkandung.
4.      KOOPERATIF
Kooperatif (adj) dalam KBBI berarti bekerjasama atau membantu. Dalam pembelajaran kita mengenal cooperative learning yaitu system pembelajaran yang member kesempatan pada peserta didik untuk salin berinteraksi dan bekerja sama dengan peserta didik lain. Dalam cooperative learning ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif, sehingga memungkinkan peserta didik untuk berinteraksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdependensi efektif diantara anggota kelompok.
Dalam pembelajaran IPS siswa dilatih memahami hubungan sosial secara langsung dalam proses pembelajaran, dan pendidik dapat menggunakan system/strategi cooperative learning ini sebagai salah satu pembelajaran langsung dalam proses pebelajaran.
Menurut sanjaya (2007) cooperative learning memiliki empat prinsip dasar sebagai berikut :
·         Prinsip Ketergantungan Positif
Kerja kelompok adalah kerja tim, yaitu keberhasilan dari tugas kelompok tersebut tergantug pada  keberhasilan semua individu dalam kelompok tersebut. Dan keberhasilan tim tersebut tergantung sejauh mana anggota kelompok tersebut memahami dan tanggung jawabnya terhadap tugas yang diberikan kepadanya. Oleh karena itu setiap anggota tergantung dengan anggota yang lainya dan dari keteragntungan ini keberhasilan kelompok ditentukan. Inilah yang disebut ketergantungan positif.
·         Tanggung Jawab Perseorangan
Keberhasilan kelompok tergantung dari keberhasilan setiap individu. Sehingga setiap anggota kelompok harus memiliki tanggung jawab terhadap kewajiban yang diberikan kepadanya. Implikasinya dalam evaluasi guru harus memberikan penilaian terhadap individu tida hanya terhadap kelompok.
·         Interaksi Tatap Muka
Implementasi cooperative learning member ruang kepada setiap individu dalam kelompok untuk saling memberikan informasi dan membelajarkan seluas-luasnya dengan anggota lainya dalam kelompok. Interaksi tatap muka akan memberi pengalaman yang berharga kepada setiap anggota kelompok untuk bekerjasama, manghargai setiap perbedaan memanfaatkan kelebihan setiap anggota, dan mengisi kekurangan masing-masing anggota.
·         Partisipasi dan Komunikasi
Tujuan utama cooperative learning adalah melatih setiap peserta didik untuk berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dengan baik. Dengan cooperative learning diharapkan siswa mampu mengembangkan kemampuan dasar dalam berkomunikasi seperti mengemukakan pendapat, bertanya, menjawab, menyatakan setuju, dan menyanggah pernyttaan temanya dengan santun dan tidak memojokan temanya.
5.      KONTEKSTUAL
Salah satu prinsip dasar pembelajaran IPS adalah kontekstual yaitu dalam proses pembelajaran peserta didik diarahkan untuk belajar tidak hanya dari materi yang bersumber dari buku akan tetapi dari materi yang bersifat ada disekitar peserta didik baik lingkup keluarga, teman sebaya, maupun lingkungan lain.
Dengan belajar dari segi lingkungan dan kehidupan disekitar peserta didik, diharapkan mereka mampu menjadi peserta didik yang mandiri. Mendorong mereka belajar dari sesama teman yang mempunyai latar belakang dan keadaan yang berbeda-beda dan juga  memahami lingkungan yang berbeda-beda. Sehingga peserta didik dapat lebih memahami kedaan sosial di sekitar mereka secara pasti (autentik), karena dalam pembelajaran kontekstual ditekankan menggunakan penilaian autentik (authentic assessment)
Lebih lanjut untuk memahami dan memperoleh hasil yang maksimal maka pembelajaran kontekstual menekankan pada tujuh pilar kontekstual, yaitu.
            Kontruktivisme, maksudnya peserta didik diberi kesempatan untu membangun sendiri pengetahuanya bukan menerima saja dari guru.
            Inkuiri, adalah pengetahuan diperoleh dengan menemukan melalui pengalaman sendiri.
            Bertanya, adalah belajar dengan kegiatan produktif, menggali informasi, menghasilkan pengetahuan.
            Masyarakat belajar, adalah kerjasama, maju bersama, dan saling membantu.
            Pemodelan, maksudnya pembelajaran yang multi way (jalur yang banyak), mencoba hal-hal baru yang kreatif.
            Refleksi, adalah pembelajaran yang komprehensif, evaluasi diri secara internal dan eksternal. Penilaian autentik, penilaian proses dan hasil, tes dan non tes, multi aspek.
6.      PROBLEM SOLVING
Selanjutnya dalam pembelajaran IPS di MI peserta didik juga di didik supaya mampu mengetahui, memahami, mencari solusi dalam masalah sosial yang terjadi pada diri peserta didik beserta lingkungan disekitarnya.
Karena dalam pembelajaran berbasis masalah peserta didik dilibtkan meneliti informasi yang spesifik untuk sampai pada kesimpulan yang belum ditetapkan sebelumnya.
Dalam pendekatan berbasis problem peserta diminta untuk :
·         Menarik pengetahuan dari satu wilayah disiplin ilmu tertentu.
·         Menggunakan pengetahuanya sendiri secara tepat.
·         Menerapkan pengetahuanini dalam serangkaian tantangan
·         Mereaksi secara tepat terhadapproblem yang muncul.
·         Mencapai solusi yang telah dipertimbangkan dengan berdasar kepada alasan yang dibenrkan.
7.      INKUIRI
Inkuir  merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menuntut peserta didik untuk mencari dan menemukan sendiri sesuatu yang baru sebagai hasil belajar.[3]
Pendekatan Inkuiri adalah suatu perluasan proses-proses discovery yang digunakan dalam cara yang lebih dewasa[4]
Salah satu prinsip dalam pembelajaran IPS di MI ini bertujuan merangsang kemampuan bertanya, menyelidiki, meneliti, untuk mengembangkan berfikir kritis dan mengembangkan kemampuan berfikir peserta didik. Dalam konteks ini pendidik diharapkan mampu mengembangkan pembelajaran IPS sebagai proses pembelajaran yang mampu merangsang kemampuan bertanya, menyelidiki, meneliti, untuk mengembangkan berfikir kritis dan mengembangkan kemampuan berfikir peserta didik.
Bertitik tolak pada persoalan-persoalan itu peserta didik dirangsang kemampuan bertanya, menyelidiki, meneliti. Melalui cara inipeserta didik dirangsang berfikir kritis dan mengembangkan kemampuan berfikirnya.
Model ini mengajar peserta didik untuk bekerja di dalam kelompoknya untuk menginvestigasi topik-topik yang kompleks. Maksudnya bahwa kemampuan untuk mengikuti dan menyelesaikan tugas-tugas dalam kelompok adalah penting baik dalam lingkunga kelas maupun luar kelas.
8.      KETERAMPILAN SOSIAL
Pendekatan keterampilan proses, bertujuan menumbuhkan keterampilan yang berkaitan dengan sutu proses tertentu yang perlu dilatihkan. Menanamkan perilaku tertentu biasanya perlu dilatih dan dibiasakan sehingga nanti akan muncul perilaku yang diharapkan dalam bermasyarakat. Keterampilan proses bisa dimulai dari mencari informasi sampai nanti bisa menginformasikannya. Sumber-sumber menumbuhkan keterampilan proses dalam pembelajaran IPS antara lain peta, globe, gambar atau foto, grafik, diagram dsb.
Kesadaran terhadap manfaat yang akan diberikan anak-anak melalui proses dan hasil akhir kegiatan mereka akan memberikan kita kemampuan untuk mengartikulasikan manfaat-manfaat ini dan untuk menggunakan display sekolah dan rapat staf sekolah untuk mempromosikan contoh-contoh kualitas pembelajaran anak-anak[5]
Dalam konteks pembelajaran IPS keterampilan yang harus di ketahui dan dikuasai oleh peserta didik adalah keterampilan sosial yaitu keterampilan-keterampilan bekerjasama, bergotong-royong, tolong menolong, dan lain sebagainya. Jadi dalam pengertian ini keterampilan sosial adalah keterampilan peserta didik dalam melakukan kegiatan-kegiatan makhluk sosial guna memenuhi kebutuhan masyarakat.


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Pembelajaran Pendidikan IPS lebih menekankan pada aspek “pendidikan” daripada “transfer konsep”, karena dalam pembelajaran pendidikan IPS peserta didik diharapkan memperoleh pemahaman terhadap sejumlah konsep dan mengembangkan serta melatih sikap, nilai, moral, dan keterampilannya berdasarkan konsep yang telah dimilikinya. Sehingga mampu mengarahkan peserta didik menjadi pribadi yang mandiri, kritis, kreatif dan adaptif.
Sedangkan tujuan pembelajaran IPS di MI adalah untuk member bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan diri sesuai bakat, minat, kemampuan dan lingkunganya dalam bidang pembelajaran di MI.
Dalam pembelajaran IPS di MI seorang guru memahami prinsip-prinsip dasar dalam melakukan pembelajaran IPS. Prinsip-prinsip ini merupakan satu kesatuan guna mencapai tujuan pembelajaran IPS bagi seluruh peserta didik.
Prinsip-prinsip dasar pembelajaran sebagai berikut :
1.      Intregrated (terpadu)
2.      Interaksi
3.      Kesinambungan dan perubahan
4.      Kooperatif
5.      Kontekstual
6.      Problem solving
7.      Inkuiri
8.      Keterampilan sosial


DAFTAR PUSTAKA
Beetlestone, Florence. 2012. Creative Learning. Bandung: Nusa Media.
Suhada, Idad. 2010. Pendidikan IPS di SD/MI. Bandung: Solo Press.
Sudirman, dkk. 1990. Ilmu Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Tim Penyusun Jurusan Pendidikan Pengetahuan Sosial FPIPS UPI. 2010. Pendalaman Materi dan Metodologi Pembelajaran Ilmu Pengetahu Sosial SD/MI.
Muhaimin. 2004. Paradigma Pendidikan Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Purwana, Agung Eko dkk. 2009. Lapis PGMI Pembelajaran IPS di MI. Surabaya: AprintA


[1] Drs. Muhaimin, M.A.et.al. Paradigma Pendidikan Islam. 2001. Malang. PT.Remaja Rosda Karya, hlm. 164.
[2] Tim Penyusun Jurusan Pendidikan Pengetahuan Sosial FPIPS UPI. Pendalaman Materi dan Metodologi Pembelajaran Ilmu Pengetahu Sosial SD/MI. 2010, hlm. 2.
[3] Idad Suhada, Pendidikan IPS di SD/MI, Bandung: Solo Press, 2010, hlm. 64
[4] Sudirman dkk, Ilmu Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Risdakarya, 1990, hlm. 169.
[5] Florence Beetlestone, Creative Learning, Bandung: Nusa Media,  hlm. 119








Tidak ada komentar: