Selasa, 03 Maret 2015

Psikolog (3)



PSIKOLOGI BELAJAR
Wahyu Maruto Aji
(210613166)

1.      PENGERTIAN PSIKOLOGI BELAJAR
Pengertian “Psikologi Belajar”, ada beberapa pengertian yang telah dirumuskan oleh para ahli tentang “Psikologi Pendidikan” sebagai berikut:
·                Psikologi Belajar adalah ilmu pengetahuan yang berusaha mempelajari, meng-analisis prinsip-prinsip manusia dalam proses belajar dan pembelajaran.[1]
·                W.S. Winkel dalam bukunya “Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar” menyatakan bahwa psikologi pendidikan adalah salah satu cabang dari psikologi praktis yang mempelajari prasarat-prasarat (fakta- fakta) bagi belajar di sekolah berbagai jenis belajar dan fase-fase dalam semua proses belajar. Dalam hal ini, kajian psikologi pendidikan sama dengan Psikologi Belajar.[2]
·                Sedangkan yang dimaksud dengan Psikologi Pendidikan yakni, ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku- tingkah laku yang terjadi dalam proses pendidikan.[3]
Jadi menurut saya disini psikologi belajar adalah ilmu yang mempelajari tentang kejiwaan manusia mengenai dalam hal belajar dan megenali karakter-karakter manusia dalam belajar.

2.      PENGERTIAN BELAJAR
·           Belajar dapat didefinisikan sebagai aktivitas yang dilakukan individu secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari apa yang telah dipelajari sebagai hasil dari interaksinya dengan lingkungan sekitarnya. Aktivitas di sini dipahami sebagai serangkaian kegiatan jiwa raga, psikofisik, menuju ke perkembangan pribadi individu seutuhnya, yang menyangkut unsur cipta (kognitif), rasa (afektif), dan karsa (psikomotorik) (2002:2).[4]
·           Menurut gagne (1984), belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisasi berubah prilakunya sebagai akibat pengalaman.[5]
·            Belajar adalah suatu aktivitas atau suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan ketrampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian.[6]
Jadi belajar adalah salah satu kegiatan manusia dari mereka tidak tahu menjadi tahu dan dimana bukanya fikiran saja tetapi juga perilaku mereka.

3.      PERILAKU SESEORANG YANG DI SEBUT PERILAKU BELAJAR
Prilaku belajar yang terjadi pada para peserta didik dapat dikenal baik dalam proses maupun hasilnya. Proses belajar dapat terjadi apabila individu merasakan adanya kebutuhan dalam dirinya yang tidak dapat dipenuhi dengan cara-cara yang refleks atau kebiasaan. Ia ditantang untuk mengubah perilaku yang ada agar dapat mencapai tujuan. Dalam mengubah perilakunya, individu melakukan berbagai perbuatan mulai dari yang sederhana hingga yang kompleks. Menurut Robert Gagne (dalam Surya 1997) bentuk perilaku dari yang sederhana hingga yang kompleks adalah :
(1) me-ngenal tanda isyarat
(2) menghubungkan stimulus dengan respons
(3) merangkaikan dua respons atau lebih
(4) asosiasi verbal, yaitu menghubungkan sebuah label kepada suatu stimulus
(5) diskriminasi, yaitu menghubungkan suatu respons yang berbeda kepada stimulus yang sama
(6) mengenal konsep, yaitu menempatkan beberapa stimulus yang tidak sama dalam kelas yang sama
(7) mengenal prinsip, yaitu membuat hubungan antara dua konsep atau lebih
(8) pemecahan masalah, yaitu menggunakan prinsip-prinsip untuk merancang suatu respons



4.      KARAKTERISTIK PERILAKU BELAJAR.
Karakteristik perilaku belajar ini dalam beberapa pustaka rujukan, antara lainmenurut Surya (1982), disebut juga sebagai prinsip-prinsip belajar. Di antara ciri-ciri perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar yang terpenting.
a)      Perubahan itu intentional
Perubahan yang terjadi dalam proses belajar adalah berkat pengalarnan atau praktik yang dilakukan dengan sengaja dan disadari, atau dengan kata lain bukan kebetulan. Karakteristik ini mengandung pengertian bahwa siswa-siswi dan siswi menyadari akan adanya perubahan yang dialami atau sekurang-kurangnya ia merasakan adanya perubahan dalam dirinya, seperti penambahan pengetahuan, kebiasaan, sikap dan pandangan sesuatu, keterampilan, dan seterusnya.
b)      Perubahan itu positif dan aktif
Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat positif dan aktif. Positif artinya baik, bermanfaat, serta sesuai dengan harapan. Hal ini juga bermakna bahwa perubahan tersebut senantiasa merupakan penambahan, yakni diperolehnya sesuatu yang baru (seperti pemahaman dan keterampilan baru) yang lebih baik daripada apa yang telah ada sebelumnya. Adapun perubahan yang tidak terjadi dengan sendirinya seperti karena proses kematangan (misalnya, bayi yang bisa merangkak setelah bisa duduk), karena usaha anak itu sendiri.
c)      Perubahan Efektif-Fungsional
Perubahan yang timbul karena proses belajar bersifat efektif, yakni berhasil guna Artinya, perubahan tersebut membawa makna dan manfaat tertentu bagi siswa dan siswi. Selain itu, perubahan dalam proses belajar bersifat fungsional dalam arti bahwa ia relatif menetap dan setiap saat apabila dibutuhkan, perubahan tersebut dapat direproduksi dan dimanfaatkan. Perubahan fungsional dapat diharapkan memberi manfaat yang luas misalnya ketika siswa dan siswi menempuh ujian dan menyesuaikan diri dengan lingkungan kehidupan sehari-hari dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya.[7] Karakteristik belajar harus mempertimbangkan kebutuhan, aspirasi, pengalaman dan minat yang berbeda antara siswa dan siswi maupun perbedaan sosial yang ada, untuk mengantisipasi adanya perbedaan sosial dan gender.

5.      RAGAM BELAJAR
Dalam proses belajar dikenal adanya bermacam-macam kegiatan yangmemiliki corak yang berbeda antara satu dengan lainnya, baik dalam aspek materi dan metodenya maupun dalam aspek tujuan dan perubahan tingkah laku yang diharapkan.
a.      Belajar Abstrak
Belajar abstrak ialah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalahmasalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat di samping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, astronomi, dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti tauhid.
b.      Belajar Keterampilan
Belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakan-gerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular). Tujuannya adalah memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini latihan-latihan intensif dan teratur amat diperlukan. Termasuk belajar dalam jenis ini misalnya belajar olah raga, musik, menari, melukis, memperbaiki benda-benda elektronik, dan juga sebagian materi pelajaran agama, seperti ibadah salat dan haji.
c.       Belajar Sosial
Belajar sosial pada dasarnya adalah belajar memahami masalah—masalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalahmasalah sosial seperti masalah keluarga, masalah persahabatan, masalah kelompok, dan masalah--masalah lain yang bersifat kemasyarakatan. Selain itu, belajar sosial juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain atau kelompok lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proporsional, termasuk mengakomodasi siswa-siswi yang berbeda akibat konstruksi  social di masyarakat. Bidang-bidang studi yang termasuk bahan pelajaran sosial antara lain pelajaran agama dan Pendidikan Moral Pancasila (PMP).

d.      Belajar Pemecahan Masalah
Belajar pemecahan masalah pada dasarnya adalah belajar menggunakan metode-metode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur, dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas, dan tuntas. Untuk itu, kemampuan siswa-siswi dalam menguasai konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi serta insight (tilikan akal) amat diperlukan. Dalam hal ini, hampir semua bidang studi dapat dijadikan sarana sarana pemecahan masalah. Untuk keperluan ini, guru (khususnya guru mengajar eksakta, seperti matematika dan IPA) sangat dianjurkan menggunakan model dan strategi mengajar yang berorientasi pada cara pemecahan masalah (Lawson, 1991).
e.       Belajar Rasional
Belajar rasional ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir secara logis dan rasional (sesuai dengan akal sehat). Tujuannya ialah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalah. Dengan belajar rasional, siswa-siswi diharapkan memiliki kemampuan rational problem solving, yaitu kemampuan memecahkan masalah dengan menggunakan pertimbangan dan strategi akal sehat, logis, dan sistematis (Reber, 1988). Bidang-bidang studi yang dapat digunakan sebagai sarana belajar rasional  sama dengan bidang-bidang studi untuk belajar pemecahan masalah. Perbedaannya, belajar rasional tidak memberikan tekanan pada penggunaan bidang studi eksakta. Artinya, bidang studi non eksakta pun dapat memberi efek yang sama dengan bidang studi eksakta dalam belajar rasional.
f.       Belajar Kebiasaan
Belajar kebiasaan adalah proses pembentukan kebiasaan--kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Belajar kebiasaan, selain menggunakan perintah, teladan dan pengalaman khusus, juga menggunakan hukuman dan ganjaran Tujuannya agar siswa-siswi memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan. kebiasaan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (kontekstual). Selain itu, arti tepat dan positif di atas ialah selaras dengan norma dan tata nilai moral yang berlaku, baik yang bersifat religius maupun tradisional dan kultural. Belajar kebiasaan akan lebih tepat dilaksanakan dalam konteks pendidikan keluarga Meskipun demikian, tentu tidak tertutup kemungkinan penggunaan pelajaran agama dan PMP sebagai sarana belajar kebiasaan bagi para siswa-siswi.

g.      Belajar Apresiasi
Belajar apresiasi adalah belajar mempertimbangkan (judgment) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa-siswi memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skills) yang dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, dan sebagainya. Bidang-bidang studi yang dapat menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi antara lain bahasa dan sastra, kerajinan tangan (prakarya), kesenian, dan menggambar. Selain bidang-bidang studi ini, bidang studi agama juga memungkinkan untuk digunakan sebagai alat pengembangan apresiasi siswasiswi, misalnya dalam hal seni baca tulis al-Qur’an. Guru perlu membandingkan perbedaan belajar apresiasi untuk mengatasi kesenjangan dalam belajar maupun gender stereotipe.
h.      Belajar Pengetahuan
Belajar pengetahuan (studi) ialah belajar dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhadap objek pengetahuan tertentu. Studi ini juga dapat diartikan sebagai sebuah program belajar terencana untuk menguasai materi pelajaran dengan melibatkan kegiatan investigasi dan eksprerimen (Reber, 1988). Tujuan belajar pengetahuan ialah agar siswa-siswi memperoleh atau menambah informasi dan pemahaman terhadap pengetahuan tertentu yang biasanya lebih rumit dan memerlukan kiat khusus dalam mempelajarinya, misalnya dengan menggunakan alat-alat laboratorium dan penelitian lapangan. Contoh: kegiatan siswa-siswi dalam bidang studi fisika mengenai “gerak” menurut hukum Newton I. Dalam hal ini siswa melakukan eksperimen untuk membuktikan bahwa setiap benda tetap diam atau bergerak secara beraturan, kecuali kalau ada gaya luar yang mempengaruhinya. Contoh lainnya, kegiatan siswa dalam bidang studi biologi mengenai protoplasma, yakni zat hidup yang ada pada tumbuh-tumbuhan dan hewan. Dalam hal ini siswa -siswi melakukan investigasi terhadap senyawa organik yang terdapat dalam protoplasma yang meliputi: karbohidrat, lemak, protein, dan asam nukleat.
Ragam Belajar Menurut A. De Block
      a. Bentuk belajar menurut fungsi psikis;
              1). Belajar Dinamika/ Konotatif
                           Ciri khasnya terletak dalam belajar berkehendak sesuatu secara wajar, sehingga orang tidak menyerah pada sembarang menghendaki dan juga tidak menghendaki sembarang hal.
              2). Belajar Afektif
                     Salah satu ciri adalah belajar menghayati nilai dari suatu objek yang dihadapi melalui alam perasaan dan juga belajar mengungkapkan perasaan dalam bentuk ekspresi yang wajar.
              3). Belajar Kognitif : mengingat, berpikir
                     Ciri khasnya terletak dalam belajar memperoleh dan menggunakan suatu bentuk representasi yang mewakili semua objek yang dihadapi
   4). Belajar Senso-Motorik ; mengamati, bergerak, berketrampilan
Ciri khasnya terletak dalam belajar menghadapi dan menangani aneka objek secara fisik.
b. Bentuk belajar menurut materi yang dipelajari ;
   1). Belajar Teoritis
         Bentuk belajar ini bertujuan untuk menempatkan semua data dan fakta (pengetahuan) dalam suatu kerangka organisasi mental, sehingga dapat dipahami dan digunakan untuk memecahkan problem.
   2). Belajar Teknis
         Bentuk belajar ini bertujuan mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dalam menangani dan memegang benda benda serta menyusun bagian-bagian materi menjadi suatu keseluruhan.
   3). Belajar Sosial atau Belajar Bermasyarakat
         Bentuk belajar ini bertujuan untuk mengekang dorongan dan kecenderungan spontan, demi kehidupan bersama, dan memberikan kelonggaran kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhanya.
   4). Belajar Senso-Motorik ; mengamati, bergerak, berketrampilan
Ciri khasnya terletak dalam belajar menghadapi dan menangani aneka objek secara fisik.
b. Bentuk belajar menurut materi yang dipelajari ;
   1). Belajar Teoritis
         Bentuk belajar ini bertujuan untuk menempatkan semua data dan fakta (pengetahuan) dalam suatu kerangka organisasi mental, sehingga dapat dipahami dan digunakan untuk memecahkan problem.
   2). Belajar Teknis
         Bentuk belajar ini bertujuan mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dalam menangani dan memegang benda benda serta menyusun bagian-bagian materi menjadi suatu keseluruhan.
   3). Belajar Sosial atau Belajar Bermasyarakat
         Bentuk belajar ini bertujuan untuk mengekang dorongan dan kecenderungan spontan, demi kehidupan bersama, dan memberikan kelonggaran kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhanya.
   4). Belajar Estetis
         Bentuk belajar ini bertujuan membentuk kemampuan menciptakan dan menghayati keindahan diberbagai bidang kesenian.
c. Bentuk Belajar yang tidak sebegitu disadari ;
   1). Belajar Insidental
   2). Belajar dengan coba-coba
   3). Belajar Tersembunyi[8]

6.      TINJAUAN TEORI PEMEBELAJARAN

Psikologi aliran behavioristik mulai mengalami perkembangan dengan lahirnya teori-teori tentang belajar yang dipelopori oleh Thorndike, Pavlov, Watson dan Guthrie. Mereka masing-masing telah mengadakaAn penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang berharga mengenai hal belajar (Suryabrata, 2004:257).
Ketika Thorndike mengadakan penelitiannya, di Rusia Ivan Pavlov (1849-1936) juga menghasilkan teori belajar yang disebut “classical Conditioning” atau stimulus substitution”. Teori Pavlov berkembang dari percobaan laboratoris terhadap anjing. Dalam percobaan ini, anjing diberi stimuli bersyarat sehingga terjadi reaksi bersyarat pada anjing. John B. Watson (1878 – 1958) adalah orang pertama di Amerika Serikat yang mengembangkan teori belajar berdasarkan hasil penelitian Pavlov. Watson berpendapat bahwa belajar merupakan proses terjadinya refleks-refleks atau respons-respons bersyarat melalui stimulus pengganti. Menurut Watson, manusia dilahirkan dengan berbagai refleks dan reaksi-reaksi emosional berupa takut, cinta dan marah. Semua tingkah laku lainnya terbentuk oleh
hubungan-hubungan stimulus respons baru melalui “conditioning”.[9]
Teori Belajar selalu bertolak dari sudut pandang psikologi belajar.Dengan adanya psikologi pendidikan kemudian muncullah teori tentang belajar.Dalam perkembangan psikologi pendidikan di zaman mutakhir muncullah secara berurutan beberapa aliran psikolog yaitu:
a)psikologi Behavioristki
b) psikologi kognitif
c) psikologi humanistik.[10]

7.      ALIRAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

a.      Teori Belajar  Behavioristik
Banyak ahli berusaha mengungkap bagaimana proses belajar terjadi pada manusia, kemudian berbasis pengalaman dan latar belakang keilmuan masing-masing ahli, lahirlah berbagai teori belajar, salah satu diantaranya adalah teori belajar behavioristik. Behaviorism dimunculkan oleh ahli yang berlatar belakang ilmu fisika dan kedokteran, sehingga teori belajar behavioristik merupakan suatu pandangan teoritis yang beranggapan, bahwa pokok persoalan psikologi adalah tingkah laku, tanpa mengaitkan konsepsikonsepsi mengenai kesadaran atau mentalitas. Pembahasan teori belajar behavioristik ini meliputi pembahasan konsep belajar behavioristik dan prinsipprinsip teori behavioristik perspektif gender. Sebagai pemahaman dasar tentang teori dalam psikologi belajar sehingga dapat dikatakan bahwa paket 5 ini merupakan paket yang berisi tentang materi yang substansial dan teoretik.[11]

b.      Teori Belajar Kognitif
Dalam upaya mengungkap bagaimana proses belajar terjadi, ada beberapa ahli yang belum merasa puas terhadap penemuan sebelumnya mengenai belajar sebagai sebuah proses hubungan stimulus –response - einforcement, seperti yang dikemukakan oleh para ahli behaviorisme. kaum kognitifis berpandangan, bahwa tingkah laku seseorang lebih bergantung dan ditentukan kepada pemahaman terhadap hubungan – hubungan yang ada didalam suatu situasi. Mereka memberi tekanan pada organisasi pegamatan atas stimuli di dalam lingkungan serta pada factor yang mempengaruhi pengematan tersebut. Para ahli psikologi kognitif menaruh perhatian besar pada proses mental yang dialami oleh setiap individu selama belajar. Tingkah laku yang tampak dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat diukur tanpa melibatkan proses mental, seperti: kehendak, kesukarelaan, kesengajaan, motivasi, keyakinan, pelibatan, dan sebagainya. Belajar bukan sekadar pengulangan hubungan antara stimulus dengan respons yang disertai pengamatan, melainkan belajar sebagai peristiwa mental melibatkan proses berpikir dan bernalar yang kompleks sifatnya. Tingkah laku nyata hampir semuanya tampak dalam aktivitas belajar. Hal itu dilakukan bukan semata-mata respons atau stimulus yang ada, melainkan yang lebih penting adalah dorongan mental yang diatur oleh pola berpikirnya.[12]

c.       Teori Belajar Humanistik
Konsep belajar humanisti berangkat dari aliran psikologi humanisti. Dalam mengembangkan teorinya, psikologi humanistik sangat memperhatikan tentang dimensi manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya secara manusiawi  dengan menitik-beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya, nilai-nilai, tanggung jawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan. Dalam hal ini, dikemukakan tentang 5 (lima) dalil utama dari psikologi humanistik, yaitu: (1) keberadaan manusia tidak dapat direduksi ke dalam komponen-komponen; (2) manusia memiliki keunikan tersendiri dalam berhubungan dengan manusia lainnya; (3) manusia memiliki kesadaran akan dirinya dalam mengadakan hubungan dengan orang lain; (4) manusia memiliki pilihan-pilihan dan dapat bertanggung jawab atas pilihanpilihanya; dan (5) manusia memiliki kesadaran dan sengaja untuk mencari makna, nilai dan kreativitas. Menurut teori humanistik, belajar harus berorientasi pada peserta didik sebagai subjek belajar. Teori ini bertujuan memanusiakan manusia untuk mampu mengaktualisasikan diri dalam hidup dan penghidupannya. Tujuan pendidikan adalah pertumbuhan dan perkembangan diri peserta didik secara utuh untuk mampu menghadapi berbagai masalah dan konflik dalam kehidupannya. Tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah memanusiakan manusia, sehingga pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang lebih bermanusiawi Pendidikan humanistik menekankan pada bagaimana menjalin komunikasi dan relasi personal antara pribadi-pribadi dan antar pribadi dan kelompok di dalam komunitas sekolah. Pendidikan yang efektif menurut aliran ini adalah pendidikan yang berpusat pada minat, dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik. Pendidik membantu peserta didik untuk menemukan, mengembangkan dan mencoba mempraktikkan kemampuan-kemampuan yang mereka miliki (the learners-centered teaching). Pendidikan humanistik berusaha mengembangkan individu secara keseluruhan melalui pembelajaran nyata. Optimalisasi pengembangan aspek emosional, Psikologi Belajar sosial, mental, dan keterampilan dalam berkarier menjadi fokus dalam model pendidikan humanistik ini. [13]

Daftar Pustaka
Modul Psikologi Belajar, Pgmi Stain Ponorogo
Soemanto wasty, psikologi belajar; jakarta, rineka cipta;2006
Dahar ratna wilis, teori-teori belajar dan pembelajaran, jakarta, Erlangga, 2006

Ahmadi Abu dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008.

Suyono dan Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012.



[1] Modul pesikologi belajar paket 1 hakekat psikologi belajar halaman 1-13
[2]Ibid.
[3] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan (Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2006), 8

[4] Modul pesikologi belajar paket 1 hakekat psikologi belajar halaman 1-12
[5] Ratna wilis dahar, teori-teori belajar dan pembelajaran, Erlangga, 2006, hlm 2
[6] Suyono dan Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), 9
[7] Modul pesikologi belajar paket 3 hakekat psikologi belajar halaman 3-8
[8] Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), 69-83


[9] Modul pesikologi belajar paket 4 Tinjau Teori Belajar halaman 6-7
[10] Wasti sumanto,Psikologi Pedidikan,(Jakarta:PTRineka cipta 1990),122

[11] Modul psikologi belajar paket 5 teori Behavioristik halaman 8
[12] Modul psikologi paket 6 belajar teori belajar kognitif halaman 8
[13] Modul psikologi belajar Paket 7 Teori Belajar Humanistik hlm  9

Tidak ada komentar: